Selasa, 04 Maret 2014

Cerita fiksi, karangan dunia khayalku :)


Jarak dan LDR :') 

*lanjutan dari cerita yang sebelumnya ya :)

Setiap wanita punya batas kesabaran, ibarat kuota pasti ada waktu habis jika terus”an dipakai dan harus diisi ulang lagi agar bisa kembali digunakan. Kesabaran wanita juga seperti itu, ada batas kesabarannya ada ada saat jika kesabarannya habis dan harus diisi ulang lagi dengan dirimu yang selalu kurindukan, kamu pengisi ulangnya, kamu obatku di saat aku sakit,  kamu pembangkit semangatku disaat aku menyerah, kamu segalanya sayang.
Aku tidak tahu apa yang sedang menimpa kita, yang aku tahu kalau ini ujian selanjutnya untuk kita, semacam tes kenaikan tingkat, kalau kita bisa melewati semuanya ini maka kita bisa ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kita hanya perlu bersabar dan saling mengerti satu sama lain, kita hanya sedang renggang saja bukan putus ataupun hancur, aku yakin sayang. Ibarat berada dalam satu ruangan yang dimana kita berada dalam waktu yang cukup lama, pasti salah satu dari kita perlu penyegaran di luar hanya untuk sekedar menghirup udara segar agar bisa kembali lagi bisa berada di satu ruangan itu untuk selanjutnya, hubungan kita mungkin berada dalam fase tersebut sayang.
Kamu adalah seseorang yang selalu mampu ku deskripsikan dalam setiap curhatanku dengan Tuhan, namamu adalah yang selalu aku ucap di setiap doaku, nama yang selalu aku tulis dalam setiap mimpiku, dalam setiap surat kecilku untuk Tuhan. Aku tidak pernah lupa dalam doaku untuk selalu mendoakan tentang kita agar kita selalu kuat, agar kita selalu berhasil melewati semua masalah yang kita lewati dan akan kita lewati, agar kita semakin dewasa, semakin mengerti satu sama lain, dan semua doa untuk kebaikan kita tidak bisa aku sebutkan satu persatu karena saking banyaknya doaku tentang kita dengan Tuhan.
Apakah kamu masih sempat memikirkanku satu detik saja dalam satu harimu? Apakah kamu pernah berusaha untuk mencari tahu tentang diriku, tentang apa yang sedang aku lakukan, tentang apa yang sedang aku rasakan, tentang siapa saja yang dekat denganku sekarang, tentang apa kesibukanku, tentang bagaimana kondisi dan kesehatanku sekarang, aku sedang sakit atau sedang berusaha sakit agar mendapat perhatian olehmu, apakah kau pernah berfikir seperti itu tentangku? Atau sama sekali tidak terlintas dipikiranmu? Kemana sifat perhatianmu yang dulu lekat sekali denganmu? Saking sibuknya dirimu ya sayang? Saking sibuknya dengan duniamu disana, dunia yang tidak aku kenal.
Entah mengapa aku merasa sangat kesepian walaupun kamu menelfonku saat itu, iya aku tetap saja merasa begitu kesepian, jelas saja kamu menelfonku dan itu sesekali saja jika kamu ingat kalau punya kekasih, pikiranmu kemana – mana, pikiranmu ke hobby barumu lah, ke teman – temanmu lah, ke semua kegiatanmu lah, rugi sayang rugi. Aku berbicara dengan sosok pria lain, yang sudah tidak ku kenal lagi. Cara berbicaramu tidak seperti dulu, gaya bahasa yang seperti membanggakan begitu sibuk dan suksenya dirimu dalam pergaulanmu di sana, dan aku? Boneka yang merangkap sebagai mesin pendengar semua kata – katamu itu.
        Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali, aku sangat menginginkan kamu yang dulu, bukan yang sekarang dengan semua hal baru darimu yang kurang ku sukai, aku berusaha kompromi dengan semua itu, semakin aku coba kompromi semakin kurasa dirimu jauh, aku tidak ingin banyak menuntut karena memang dari awal aku berusaha tidak melakukan hal itu. Namun dirimu? Kamu selalu menuntut agar aku selalu mengerti dan berkompromi dengan dirimu, lalu? Semua yang aku lakukan masih kurang sayang? Aku masih belum kompromi dengan dirimu? Mau aku sampai berkompromi seperti apa? Sampai aku kompromi kamu selingkuh atau sampai kamu benar- benar jauh? Begitu? Lalu apa yang kudapatkan dari semua itu? Apa timbal balik yang aku dapatkan dari semua itu? Nothing kan?.
        Hubungan kita dingin sayang, dingin lebih dingin dari sebelumnya, aku semakin tidak kuat dengan jarak yang ada di antara kita ini, aku sudah lelah berjuang sendiri dengan semua rintangan yang aku lewati sendiri, aku begitu angkuh berfikir kalau aku pasti bisa menjadi wanita kuat untukmu, wanita kuat dengan cinta sejati yang aku rasa begitu kuat untuk dipertahankan. Cinta sejati itu hanya aku yang memilikinya untukmu, dirimu? Mungkin cinta sejati yang dulu itu sudah terbagi – bagi atau sudah semakin menipis seperti kapur barus yang terus – teruskan mengecil akibat tersumblim oleh masalah yang terus – terusan menerpa kita.
       Luka luka luka luka luka luka luka lukaaa terus yang sekarang kau beri, kapan kamu memberikanku sebuah kebahagian? Kapan lagi kamu memberikanku sebuah kenyamanan lagi? Kapan lagi kamu membuatku semangat untuk bertahan di dalam hubungan ini? Aku tiba di titik dimana aku lelah dengan semua ini, semua yang harus aku lewati, aku menyerah dengan jarak yang akhirnya menang dalam perjuangan ini. Aku mengibarkan bendara putih tanda aku menyerah dengan semuanya ini, aku tidak bisa memaksa diriku, memaksa yang memang sudah tak lagi sama. Ada kalanya memang kita harus melepas sesuatu yang sudah susah payah kita perjuangkan, sesuatu yang kita rasa sudah melekat erat dengan kita.
 Aku harus melepasmu, dan mulai sekarang aku harus terbiasa tanpamu. Kita berakhir namun aku harap tidak dengan rasa sayang dan tali silaturahmi, kita masih tetap saling kenal dan saling berhubungan kan? Tidak seperti kebanyakan orang yang saling tidak mengenal satu sama lain, menjadi orang asing setelah berakhir, kita tidak sekanak – kanakan itu kan? Aku sayang kamu tapi tidak seperti sayang, tidak dengan pacaran bisa saja hubungan persahabatan kita bisa saling mengerti. Kamu bisa mencari wanita yang jauh lebih sabar, tidak kenak – kanakan seperti diriku, yang jauh lebih mengerti dirimu, yang jauh lebih baik dariku, kamu pasti akan mendapatkannya sayang :). Berakhirnya hubungan kita sekaligus berakhirnya juga tulisan ini, menggantinya dengan tulisan dan cerita yang baru. Jarak itu bukan untuk dipikirkan ketika hubungan harus melewati tahap LDR, bukankah akhir kisah tiap orang berbeda – beda? :) . Terimakasih…



Selasa, 14 Januari 2014

cerita fiksi, karangan dunia khayalku :)



Jarak dan LDR :')  

*lanjutan dari yang sebelumnya :) 

Sampai pada bulan ke sebelas, aku sudah merasa di ujung jurang, entah aku harus melompat, melepaskan diriku dari jeratan hubungan jarak jauh yang sudah seperti kawat berduri ini, dan membiarkan diriku untuk terhempas jatuh ke jurang yang tak berdasar itu ? tentu saja aku memilih untuk mundur dan membiarkan diriku untuk semakin terjerat, aku ingin mempertahankan semuanya ini, ini mungkin baru awal, aku tidak ingin menyerah, ini baru ujian pertama dari serangkaian ujian – ujian yang akan kita hadapi untuk mencapai tujuan kita, ayo sayang semangat!
Aku semakin optimis, aku tahu rasa itu masih ada, tidak terganti, hanya sedikit mengalami perubahan, seiring dengan berlangsungnya proeses adaptasi kita, adaptasi kondisi dan keadaan yang dulu dengan yang sekarang, memang dirasa agak lama, tapi itu bukan menjadi masalah, mungkin kita adalah sepasang kekasih yang sama – sama memerlukan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan keadaan yang kita alami sekarang, dan mungkin cara kita lebih ekstrim dari biasanya, dan dari yang kebanyakan orang lain lakukan.
        Aku hanya perlu sedikit bersabar dan menekan sifat egoisku, lebih mengerti dengan keadaannya, aku tidak bisa memaksakan kehendakku saja, lebih mengalah dan saling kompromi, bukankah cinta itu perlu sebuah kompromi? saling menerima satu sama lainnya, mampu menerima dan bersabar menghadapi keadaan serta masalah yang datang, di situlah cinta bisa di selipkan kata “sejati”, karena mampu melewati semua ujian yang dihadapi, cinta merekapun bertambah kuat dan kokoh. aku harap kita bisa seperti itu sayang :’)
        Bulan ke 12, ya tepat 1 tahun hubungan kita. Ini adalah hari jadi kita yang ke pertama, sudah dari seminggu yang lalu aku siapkan kejutan untuk Anniversarry kita yang pertama ini, aku sudah siapkan kata – kata manis yang akan ku ucapkan untukmu, aku sudah menyiapkan album foto yang di dalamnya ada berbagai foto kita dulu, aku harap kamu suka, aku tidak sabar ingin mengirimnya dan menunggu balasan darimu, entah apa yang akan kamu berikan untukku, yang jelas aku menunggumu, aku begitu bahagia menuggu moment itu. Tiba pada hari itu, tepat jam 00.00 menuju hari jadi kita, aku menuggu pesan darimu untuk mengucapkannya lebih dulu, seperti yang biasa kamu lakukan. hmmmsudah lewat 5 menit… ahh aku saja yang lebih dulu, apa salahnya mengucapkannya lebih dulu, toh dia mungkin juga menungguku mengucapkannya lebih dulu, lalu aku kirim pesan itu :


pesan itu akhirnya terkirim, aku menunggu untuk mendapatkan ucapan balasan dari dia, aku menuggu hingga hampir subuh, akupun sudah mulai mengantuk, aku dan akhirnya aku tertidur sambil memegang ponselku berharap dia membalas pesanku. Mungkin dia kecapean setelah sibuk seharian jadi dia sudah tertidur lebih dulu, aku tetap berpikir positif saja J
        Pagi datang, aku terbangun dari tidurku, aku segera mengecek ponselku akhirnya ada pesan darinya :
Akhirnya kamu membalasnya, aku kira kamu sudah lupa, ternyata kamu ingat. Akupun sudah mengirim hadiah kejutan yang telah aku buat, semoga kamu suka ya sayang, aku tahu kamu sibuk di sana, jadi mungkin kamu tidak sempat menyiapkan hadiah untukku, aku mengerti kok, tenang saja sayang {}. Di hari itu aku dan dia berhubungan seperti biasa, aku menelfonnya seperti beberapa bulan yang lalu, kita berbincang seharian, aku senang kita bisa seperti ini, aku berharap kita bisa terus seperti ini, tidak ada miss komunikasi seperti beberapa bulan terakhir.
        2 bulan kemudian
        sayang.. kamu kenapa? aku ada salah ya? please balas sms aku.
        sayang.. jangan lupa makan ya, jaga kesehatanmu,
        walaupun kamu sibuk, aku tetap menunggumu {}
        sayang..
        sayang..
        sayang, kamu lagi dimana?
2 bulan sudah kamu tidak ada kabar, entah kamu sedang di luar, sedang kuliah, atau sedang asyik dengan segudang aktiviasmu, entahlah aku tidak tahu. Kamu mungkin saja bisa dengan cara ini menguji kesabaranku atau ingin membuatku semakin terluka oleh sifatmu. Terserah sih, aku sayang kamu dengan tulus tanpa syarat, aku selalu sabar menghadapi sifatmu yang seperti ini, tinggal tunggu saja sampai mana batas kesabaranku. Aku wanita yang punya batas kesabaran sih, jadi kamu yang sekarang giliran untuk mengerti diriku, bukankah begitu? :)
aku tinggal lebih banyak bersabar, dan menunggu sampai kuota kesabaranku habis, karena wanita tidak hanya terus – terusan bisa bersabar :)