Kamis, 26 Desember 2013

cerita fiksi, karangan dunia khayalku


Jarak dan LDR :’)

Jarak jarak jarak , kalau bisa ku definisikan jarak itu adalah sebuah batasan. Ya! jarak membatasi segalanya, membatasi suatu benda, membatasi antar kendaraan di jalan raya, ada rumus fisika yang membahas tentang jarak itu, termasuk membatasi 2 hati yang saling terpaut dalam satu hubungan :') 
Jarak bisa dijadikan si biang keladi api perdebatan bagi kita yang sedang berhubungan jarak jauh, salah komunikasi saja bisa jadi masalah dan perdebatan, wajar sajalah 2 pihak yang sama - sama ingin di perhatikan, membutuhkan perhatian, saling merindukan yang tentunya menjadikannya saling sensitif satu sama lain, bagaikan menyiram bensin  ke api pada sebuah lilin kecil, masalah yang kecil bisa menjadi besar dan masalah yang besar bisa tambah di besar - besarkan, begitulah problema pasangan LDR. 
Itulah yang aku rasa selama ini, kita menjalani hubungan jarak jauh, selama kurun waktu itulah kita sama - sama menahan keegoisan masing - masing, dan selama itulah aku selalu di cekoki dengan pertengkaran, perdebatan dan permasalahan yang muncul di antara kita. Dirimu yang begitu sabar, dipaksa untuk jauh lebih sabar lagi menghadapi sifatku yang manja, selalu ingin di perhatikan, dan tidak sabaran berbanding terbalik dengan dirimu yang selalu ngemong dan menyayangiku lebih, ya kamu dewasa, kamu jauh lebih dewasa dari diriku, sikapmu dewasa lebih dari usiamu.
Tidak hanya itu, kita berdiri membangun sebuah hubungan di atas berbagai perbedaan, kita hanya berlandaskan cinta untuk membangunnya sedikit demi sedikit, perbedaan yang begitu sulit untuk disamakan, ibarat benang kusut begitu sulit untuk kita benahi, begitu sulit untuk kita luruskan, begitu kusutnya untuk di rajut, dan begitu sakit untuk diingat :’), kita berdiri di atas 2 keyakinan yang berbeda, tapi kita coba untuk tetap bersama, kita yakin pasti ada jalan keluar untuk permasalahan ini, kita yakin kita bisa bersama dalam perbedaan, bukankah perbedaan itu indah? Tapi tidak indah untuk yang satu ini, kita berdiri tegak berdampingan di antara jurang terjal yang dalam, dan tidak berdasar. Kita di batasi oleh tembok tinggi perbedaan, jadi bagaimana caranya kita harus bisa bersama walau harus di batasasi dalam segala hal, itu kesakitan kedua yang aku alami.
Kesakitan ketiga yang aku alami, tau kalau dirimu yang harus pergi meninggalkanku untuk menuntut ilmu di pulau seberang, ya memang tak jauh, kau tak berada di kutub utara atau sedang berada di luar angkasa, hanya saja jarak yang kita alami lebih jauh dari sebelumnya, kau menuntut ilmu di kota kembang Bandung, aku di sini di pulau Dewata Bali. Ya bisa di hitung sendiri berapa jarak antara Bandung ke Denpasar, ya hitunglah saja sendiri berapa lama rambatan signal kerinduan yang harus kami lewati, meninggalkanku beberapa tahun kedepan, dan kita di paksa harus menjalani hubungan jarak jauh, memang teknologi sudah begitu canggihnya, bisa mendekatkan bagi yang jauh, seolah olah jarak itu hanya sebuah mitos, teknologi yang canggih bisa dengan mudahnya mendekatkan setiap orang, termasuk mendekatkan hati 2 anak manusia yang sudah terlanjur terpaut :’).
Salah satu sarana yang paling sering kita gunakan untuk melepas kerinduan di antara jarak adalah komuikasi melalui telepon, pesan singkat, ataupun social media, hanya sarana tersebut yang kita rasa paling tepat untuk melepas kerinduan dan paling bisa mendekatkan kita dari kejauhan, komunikasi inilah yang menyebrangkan cinta kita, agar hati kita yang sudah terpaut semakin terpaut, sangat terpaut, sampai menyatu hingga kita sudah tidak tahu lagi bagaimana carana kita untuk berpisah, aku pernah sampai berharap kita itu bisa sampai selamanya seperti ini, saling mencintai, saling menyayangi sampai nanti sampai kita tua dan memiliki anak - anak yang kelak bisa mewarnai rumah kita nanti, itu semua sudah ada dalam bayang – bayangku sampai – sampai aku telah menyiapkan nama untuk mereka dengan nama – nama lucu yang mencerminkan kisah cinta kita.
Kau pun begitu meyakinkanku untuk selalu memilihmu, mempercayakanmu, tetap bersamamu walau apapun yang terjadi, bisakah kau tetap menggenggam erat tanganku, menemaniku untuk melewati hutan lebat, jurang yang dalam, lembah yang terjal, tebing yang curam, sungai yang luas dengan arus derasnya untuk mencapai sebuah bukit indah di sana? di situlah merupakan tujuan akhir kita sayang. Aku harap kamu mau melewati itu bersamaku, berdua, karena ku yakin kita ini kuat, karena kita di bangun oleh pondasi yang sudah terbiasa oleh hantaman permasalahan yang muncul, jadi aku rasa kita kuat mewati semua ini.
Hari demi hari aku lewati bersama kesepian dan di setiap malamnya aku lewati dengan dinginnya hembusan angin malam yang erat memelukku, karena kamu jauh di sana dan aku hanya bisa merasakan pelukkanmu dari jauh, dan itupun hanya khayal. dalam khayal aku berbicara, dalam khayal aku menatap dalam matamu, dalam khayal aku melihat senyumanmu, dalam khayal aku merasakan genggaman erat tanganmu, dalam khayal aku merasakan hangatnya pelukanmu, semuanya dalam khayal. dan aku harap kaupun berkhayal tentang hal yang sama, walaupun tidak sama tapi setidaknya kau berkhayal tentangku. :’)
Bulan pertama kita hubungan kita begitu manis, manis sekali, jarak bukannya menjauhkan kita ,justru membuat kita merasa semakin dekat, semakin merindu, semakin sadar bahwa kita begitu menyayangi satu sama lainnya, begitupun bulan kedua, ketiga, bulan keempat mulai mencari kesibukan masing – masing untuk mengisi waktu luang, apalagi aku yang sudah mulai mencari cara untuk mehilangkan kejenuhan menunggumu sampai selesai semua aktifitas kuliahmu, tapi aku rasa makin hari malah terasa semakin jauh, semakin jarang berkomunikasi tidak seperti 3 bulan sebelumnya, aku mulai merasakan hawa dingin dalam hubungan kita, tapi aku tidak ingin menganggapnya masalah besar, mungkin setiap pasangan LDR pasti merasakannya, aku anggap itu hal yang wajar sajalah.
Bulan kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh mengapa hawa dinginnya semakin menusuk tulang ya? aku butuh selimut tebal untuk menutupi hubungan ini agar hangat kembali seperti di bulan – bulan awal sayang, kamu punya gak? selimutku masih belum cukup untuk menghangatkannya, kita semakin berjauhan, semakin jarang berkomunikasi, ya aku tahu kamu semakin sibuk disana, semakin sibuk dengan urusanmu yang entah apa itu yang tidak ku ketahui lagi semua, kabar pun jika aku beruntung bisa di beritahu olehmu, jika tidak aku sms kamu dan tidak kamu balas, alias aku tidak mendapatkan kabar darimu, begitu sibukkah dirimu sampai – sampai memberiku kabar saja waktumu tersita? masih sempatkah kau memikirkanku? mengapa hubungan kita menjadi sangat dingin sekarang? tidak ada lagi kehangatan dan komunikasi mesra dan kata – kata manis dari pesanmu atau mulutmu melalui telfon. aku tidak menemukan dirimu yang dulu, kemana dirimu yang dulu? hilang? tenggelam? tenggelam dan tertergantikan oleh dirimu yang sekarang. Aku menginginkan hubungan kita yamg dulu, kehangatan dan candaan mesra dan manis seperti yang dulu. Aku tunggu itu.
Bertahan sampai aku mulai lelah dan siap untuk menulis kisah lanjutannya, aku harap aku masih bisa menulis dan mengingat kisah itu. Gadis yang masih menunggu kekasihnya.