Jarak dan LDR :’)
Jarak jarak jarak , kalau bisa ku definisikan jarak itu adalah
sebuah batasan. Ya! jarak membatasi segalanya, membatasi suatu benda, membatasi
antar kendaraan di jalan raya, ada rumus fisika yang membahas tentang jarak
itu, termasuk membatasi 2 hati yang saling terpaut dalam satu hubungan
:')
Jarak bisa dijadikan si biang keladi api perdebatan bagi kita yang
sedang berhubungan jarak jauh, salah komunikasi saja bisa jadi masalah dan
perdebatan, wajar sajalah 2 pihak yang sama - sama ingin di perhatikan,
membutuhkan perhatian, saling merindukan yang tentunya menjadikannya saling
sensitif satu sama lain, bagaikan menyiram bensin ke api pada sebuah
lilin kecil, masalah yang kecil bisa menjadi besar dan masalah yang besar bisa
tambah di besar - besarkan, begitulah problema pasangan LDR.
Itulah yang aku rasa selama ini, kita menjalani hubungan jarak
jauh, selama kurun waktu itulah kita sama - sama menahan keegoisan masing -
masing, dan selama itulah aku selalu di cekoki dengan pertengkaran, perdebatan
dan permasalahan yang muncul di antara kita. Dirimu yang begitu sabar, dipaksa
untuk jauh lebih sabar lagi menghadapi sifatku yang manja, selalu ingin di
perhatikan, dan tidak sabaran berbanding terbalik dengan dirimu yang selalu
ngemong dan menyayangiku lebih, ya kamu dewasa, kamu jauh lebih dewasa dari
diriku, sikapmu dewasa lebih dari usiamu.
Tidak hanya itu, kita berdiri membangun sebuah hubungan di atas
berbagai perbedaan, kita hanya berlandaskan cinta untuk membangunnya sedikit
demi sedikit, perbedaan yang begitu sulit untuk disamakan, ibarat benang kusut
begitu sulit untuk kita benahi, begitu sulit untuk kita luruskan, begitu kusutnya
untuk di rajut, dan begitu sakit untuk diingat :’), kita berdiri di atas 2
keyakinan yang berbeda, tapi kita coba untuk tetap bersama, kita yakin pasti
ada jalan keluar untuk permasalahan ini, kita yakin kita bisa bersama dalam
perbedaan, bukankah perbedaan itu indah? Tapi tidak indah untuk yang satu ini,
kita berdiri tegak berdampingan di antara jurang terjal yang dalam, dan tidak
berdasar. Kita di batasi oleh tembok tinggi perbedaan, jadi bagaimana caranya
kita harus bisa bersama walau harus di batasasi dalam segala hal, itu kesakitan
kedua yang aku alami.
Kesakitan ketiga yang aku alami, tau kalau dirimu yang harus pergi
meninggalkanku untuk menuntut ilmu di pulau seberang, ya memang tak jauh, kau
tak berada di kutub utara atau sedang berada di luar angkasa, hanya saja jarak
yang kita alami lebih jauh dari sebelumnya, kau menuntut ilmu di kota kembang
Bandung, aku di sini di pulau Dewata Bali. Ya bisa di hitung sendiri berapa jarak
antara Bandung ke Denpasar, ya hitunglah saja sendiri berapa lama rambatan
signal kerinduan yang harus kami lewati, meninggalkanku beberapa tahun kedepan,
dan kita di paksa harus menjalani hubungan jarak jauh, memang teknologi sudah
begitu canggihnya, bisa mendekatkan bagi yang jauh, seolah –olah
jarak itu hanya sebuah mitos, teknologi yang canggih bisa dengan mudahnya
mendekatkan setiap orang, termasuk mendekatkan hati 2 anak manusia yang sudah
terlanjur terpaut :’).
Salah
satu sarana yang paling sering kita gunakan untuk melepas kerinduan di antara
jarak adalah komuikasi melalui telepon, pesan singkat, ataupun social media,
hanya sarana tersebut yang kita rasa paling tepat untuk melepas kerinduan dan
paling bisa mendekatkan kita dari kejauhan, komunikasi inilah yang
menyebrangkan cinta kita, agar hati kita yang sudah terpaut semakin terpaut,
sangat terpaut, sampai menyatu hingga kita sudah tidak tahu lagi bagaimana
carana kita untuk berpisah, aku pernah sampai berharap kita itu bisa sampai
selamanya seperti ini, saling mencintai, saling menyayangi sampai nanti sampai
kita tua dan memiliki anak - anak yang kelak bisa mewarnai rumah kita nanti,
itu semua sudah ada dalam bayang – bayangku sampai – sampai aku telah
menyiapkan nama untuk mereka dengan nama – nama lucu yang mencerminkan kisah
cinta kita.
Kau
pun begitu meyakinkanku untuk selalu memilihmu, mempercayakanmu, tetap
bersamamu walau apapun yang terjadi, bisakah kau tetap menggenggam erat
tanganku, menemaniku untuk melewati hutan lebat, jurang yang dalam, lembah yang
terjal, tebing yang curam, sungai yang luas dengan arus derasnya untuk mencapai
sebuah bukit indah di sana? di situlah merupakan tujuan akhir kita sayang. Aku harap
kamu mau melewati itu bersamaku, berdua, karena ku yakin kita ini kuat, karena
kita di bangun oleh pondasi yang sudah terbiasa oleh hantaman permasalahan yang
muncul, jadi aku rasa kita kuat mewati semua ini.
Hari
demi hari aku lewati bersama kesepian dan di setiap malamnya aku lewati dengan
dinginnya hembusan angin malam yang erat memelukku, karena kamu jauh di sana
dan aku hanya bisa merasakan pelukkanmu dari jauh, dan itupun hanya khayal. dalam
khayal aku berbicara, dalam khayal aku menatap dalam matamu, dalam khayal aku
melihat senyumanmu, dalam khayal aku merasakan genggaman erat tanganmu, dalam
khayal aku merasakan hangatnya pelukanmu, semuanya dalam khayal. dan aku harap
kaupun berkhayal tentang hal yang sama, walaupun tidak sama tapi setidaknya kau
berkhayal tentangku. :’)
Bulan
pertama kita hubungan kita begitu manis, manis sekali, jarak bukannya
menjauhkan kita ,justru membuat kita merasa semakin dekat, semakin merindu,
semakin sadar bahwa kita begitu menyayangi satu sama lainnya, begitupun bulan
kedua, ketiga, bulan keempat mulai mencari kesibukan masing – masing untuk
mengisi waktu luang, apalagi aku yang sudah mulai mencari cara untuk
mehilangkan kejenuhan menunggumu sampai selesai semua aktifitas kuliahmu, tapi
aku rasa makin hari malah terasa semakin jauh, semakin jarang berkomunikasi
tidak seperti 3 bulan sebelumnya, aku mulai merasakan hawa dingin dalam
hubungan kita, tapi aku tidak ingin menganggapnya masalah besar, mungkin setiap
pasangan LDR pasti merasakannya, aku anggap itu hal yang wajar sajalah.
Bulan
kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh mengapa hawa
dinginnya semakin menusuk tulang ya? aku butuh selimut tebal untuk menutupi hubungan
ini agar hangat kembali seperti di bulan – bulan awal sayang, kamu punya gak?
selimutku masih belum cukup untuk menghangatkannya, kita semakin berjauhan,
semakin jarang berkomunikasi, ya aku tahu kamu semakin sibuk disana, semakin
sibuk dengan urusanmu yang entah apa itu yang tidak ku ketahui lagi semua,
kabar pun jika aku beruntung bisa di beritahu olehmu, jika tidak aku sms kamu
dan tidak kamu balas, alias aku tidak mendapatkan kabar darimu, begitu sibukkah
dirimu sampai – sampai memberiku kabar saja waktumu tersita? masih sempatkah
kau memikirkanku? mengapa hubungan kita menjadi sangat dingin sekarang? tidak
ada lagi kehangatan dan komunikasi mesra dan kata – kata manis dari pesanmu
atau mulutmu melalui telfon. aku tidak menemukan dirimu yang dulu, kemana
dirimu yang dulu? hilang? tenggelam? tenggelam dan tertergantikan oleh dirimu
yang sekarang. Aku menginginkan hubungan kita yamg dulu, kehangatan dan candaan
mesra dan manis seperti yang dulu. Aku tunggu itu.
Bertahan sampai aku mulai lelah dan siap
untuk menulis kisah lanjutannya, aku harap aku masih bisa menulis dan mengingat
kisah itu. Gadis yang masih menunggu kekasihnya.