Jarak dan LDR :')
*lanjutan dari cerita yang sebelumnya ya :)
Setiap wanita punya batas
kesabaran, ibarat kuota pasti ada waktu habis jika terus”an dipakai dan harus
diisi ulang lagi agar bisa kembali digunakan. Kesabaran wanita juga seperti itu,
ada batas kesabarannya ada ada saat jika kesabarannya habis dan harus diisi
ulang lagi dengan dirimu yang selalu kurindukan, kamu pengisi ulangnya, kamu
obatku di saat aku sakit, kamu
pembangkit semangatku disaat aku menyerah, kamu segalanya sayang.
Aku tidak tahu apa yang
sedang menimpa kita, yang aku tahu kalau ini ujian selanjutnya untuk kita,
semacam tes kenaikan tingkat, kalau kita bisa melewati semuanya ini maka kita
bisa ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kita hanya perlu bersabar
dan saling mengerti satu sama lain, kita hanya sedang renggang saja bukan putus
ataupun hancur, aku yakin sayang. Ibarat berada dalam satu ruangan yang dimana
kita berada dalam waktu yang cukup lama, pasti salah satu dari kita perlu
penyegaran di luar hanya untuk sekedar menghirup udara segar agar bisa kembali
lagi bisa berada di satu ruangan itu untuk selanjutnya, hubungan kita mungkin
berada dalam fase tersebut sayang.
Kamu adalah seseorang yang
selalu mampu ku deskripsikan dalam setiap curhatanku dengan Tuhan, namamu
adalah yang selalu aku ucap di setiap doaku, nama yang selalu aku tulis dalam
setiap mimpiku, dalam setiap surat kecilku untuk Tuhan. Aku tidak pernah lupa
dalam doaku untuk selalu mendoakan tentang kita agar kita selalu kuat, agar
kita selalu berhasil melewati semua masalah yang kita lewati dan akan kita
lewati, agar kita semakin dewasa, semakin mengerti satu sama lain, dan semua
doa untuk kebaikan kita tidak bisa aku sebutkan satu persatu karena saking
banyaknya doaku tentang kita dengan Tuhan.
Apakah kamu masih sempat
memikirkanku satu detik saja dalam satu harimu? Apakah kamu pernah berusaha
untuk mencari tahu tentang diriku, tentang apa yang sedang aku lakukan, tentang
apa yang sedang aku rasakan, tentang siapa saja yang dekat denganku sekarang,
tentang apa kesibukanku, tentang bagaimana kondisi dan kesehatanku sekarang,
aku sedang sakit atau sedang berusaha sakit agar mendapat perhatian olehmu,
apakah kau pernah berfikir seperti itu tentangku? Atau sama sekali tidak
terlintas dipikiranmu? Kemana sifat perhatianmu yang dulu lekat sekali
denganmu? Saking sibuknya dirimu ya sayang? Saking sibuknya dengan duniamu
disana, dunia yang tidak aku kenal.
Entah mengapa aku merasa
sangat kesepian walaupun kamu menelfonku saat itu, iya aku tetap saja merasa
begitu kesepian, jelas saja kamu menelfonku dan itu sesekali saja jika kamu
ingat kalau punya kekasih, pikiranmu kemana – mana, pikiranmu ke hobby barumu
lah, ke teman – temanmu lah, ke semua kegiatanmu lah, rugi sayang rugi. Aku
berbicara dengan sosok pria lain, yang sudah tidak ku kenal lagi. Cara
berbicaramu tidak seperti dulu, gaya bahasa yang seperti membanggakan begitu
sibuk dan suksenya dirimu dalam pergaulanmu di sana, dan aku? Boneka yang
merangkap sebagai mesin pendengar semua kata – katamu itu.
Aku
tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali, aku sangat
menginginkan kamu yang dulu, bukan yang sekarang dengan semua hal baru darimu
yang kurang ku sukai, aku berusaha kompromi dengan semua itu, semakin aku coba
kompromi semakin kurasa dirimu jauh, aku tidak ingin banyak menuntut karena
memang dari awal aku berusaha tidak melakukan hal itu. Namun dirimu? Kamu
selalu menuntut agar aku selalu mengerti dan berkompromi dengan dirimu, lalu?
Semua yang aku lakukan masih kurang sayang? Aku masih belum kompromi dengan
dirimu? Mau aku sampai berkompromi seperti apa? Sampai aku kompromi kamu
selingkuh atau sampai kamu benar- benar jauh? Begitu? Lalu apa yang kudapatkan
dari semua itu? Apa timbal balik yang aku dapatkan dari semua itu? Nothing kan?.
Hubungan
kita dingin sayang, dingin lebih dingin dari sebelumnya, aku semakin tidak kuat
dengan jarak yang ada di antara kita ini, aku sudah lelah berjuang sendiri
dengan semua rintangan yang aku lewati sendiri, aku begitu angkuh berfikir kalau
aku pasti bisa menjadi wanita kuat untukmu, wanita kuat dengan cinta sejati
yang aku rasa begitu kuat untuk dipertahankan. Cinta sejati itu hanya aku yang
memilikinya untukmu, dirimu? Mungkin cinta sejati yang dulu itu sudah terbagi –
bagi atau sudah semakin menipis seperti kapur barus yang terus – teruskan mengecil
akibat tersumblim oleh masalah yang terus – terusan menerpa kita.
Luka
luka luka luka luka luka luka lukaaa terus yang sekarang kau beri, kapan kamu
memberikanku sebuah kebahagian? Kapan lagi kamu memberikanku sebuah kenyamanan
lagi? Kapan lagi kamu membuatku semangat untuk bertahan di dalam hubungan ini? Aku
tiba di titik dimana aku lelah dengan semua ini, semua yang harus aku lewati,
aku menyerah dengan jarak yang akhirnya menang dalam perjuangan ini. Aku mengibarkan
bendara putih tanda aku menyerah dengan semuanya ini, aku tidak bisa memaksa
diriku, memaksa yang memang sudah tak lagi sama. Ada kalanya memang kita harus melepas
sesuatu yang sudah susah payah kita perjuangkan, sesuatu yang kita rasa sudah
melekat erat dengan kita.
Aku
harus melepasmu, dan mulai sekarang aku harus terbiasa tanpamu. Kita berakhir
namun aku harap tidak dengan rasa sayang dan tali silaturahmi, kita masih tetap
saling kenal dan saling berhubungan kan? Tidak seperti kebanyakan orang yang saling
tidak mengenal satu sama lain, menjadi orang asing setelah berakhir, kita tidak
sekanak – kanakan itu kan? Aku sayang kamu tapi tidak seperti sayang, tidak
dengan pacaran bisa saja hubungan persahabatan kita bisa saling mengerti. Kamu bisa mencari wanita yang
jauh lebih sabar, tidak kenak – kanakan seperti diriku, yang jauh lebih
mengerti dirimu, yang jauh lebih baik dariku, kamu pasti akan mendapatkannya sayang :). Berakhirnya hubungan kita sekaligus
berakhirnya juga tulisan ini, menggantinya dengan tulisan dan cerita yang baru.
Jarak itu bukan untuk dipikirkan ketika hubungan harus melewati tahap LDR,
bukankah akhir kisah tiap orang berbeda – beda? :) . Terimakasih…