Wacana negeri tercinta
Lihatlah bapak
itu!, ya.. Bapak yang berkeliling di sekitaran lampu merah di perempatan jalan
sana, harus berjuang menyambung hidupnya beserta keluarganya di usianya yang
sudah cukup senja untuk menyekolahkan anak - anaknya sampai ke bangku kuliah
dengan harapan agar kehidupan anak beserta cucunya nanti tidak seperti dirinya.
Postur tubuh yang semakin tahun semakin mengecil, membungkuk, semakin kurus, kulitnya sudah
hitam legam terbakar panasnya sinar matahari ibu kota, wajahnya ang sudah
keriput, kusam ditutupi debu jalanan dan asap kendaraan, kesana kemari menjual
asongan, telapak kaki yang sudah semakin tebal, semakin kuat menahan panasnya
aspal jalanan ibu kota, menggunakan topi bekas SMA anaknya cukup untuk melindungi
kulit kepalanya yang sudah ditutupi rambut putih yang tipis dari panasnya
matahari siang bolong itu, menggunakan baju kaos usang yang merupakan baju
gratis yang di bagikan oleh para caleg (calon legislatif) sewaktu berkampanye. Sudah
menjadi traidisi para caleg ketika berkampanye membagikan baju berserta bahan –
bahan bpangan untuk menarik simpati rakyat kecil teruatama. Tulisan di
punggungnya klasik, sering sekali di pakai oleh para caleg.
“Pilih saya! Mari kita bersama – sama
menuntaskan kemiskinan di negeri ini!” atau “Di tangan saya, saya jamin korupsi
di negeri ini terhapuskan!” namun apa kenyataannya? Para orang – orang yang
sudah damai duduk di kursi pemerintahan yang seharga miliaran rupiah itu dengan
anggaran belanja Negara yang selangit, dengan tenangnya tidur, mengoceh hal –
hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan jeritan rakyat kecil atau
berlomba – lomba memiliki barang- barang mewah, itupun jika ingin terjun ke
bawah melihat rakyat kecilnya, memberi bantuan untuk korban musibah saja, harus
disertai dengan wartawan yang meliput dan mendokumentasi semua kegiatannya
kemudian menggunggahnya di sisial media instagram, facebook, twitter, path dan
sebagainya agar menjadi popular di kalangan wakil rakyat, begitukah wakil
rakyat kita? Bukannya memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya seperti janjinya
sewaktu berkampanye dulu, malah berlomba saling cepat – cepatan mengumpulkan
pundi – pundi kekayaannya di kursi dan jabatannya sebagai wakil rakyat yang
bermartabat.
Apakah menjadi
wakil rakyat merupakan profesi yang bertujuan untuk menambah kekayaan? untuk
mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan untuk berkampanye? Atau menambah
pundi – pundi kekayaannya sembari mencari popularitas? Bukannya sama saja kalau
begitu? Uang yang dikeluarkan untuk rakyat sewaktu berkampanye dikembalikan
dengan mengambil uang yang merupakan hak rakyat ketika sudah duduk di kursi
pemerintahan itu? Rakyat lah yang sengsara juga akhirnya. Banyak caleg yang
sudah mulai depresi ketika tidak berhasil maju ke kursi pemerintahan. Politik
di negeri yang menggunakan landasan demokrasi yang begitu kental berubah
menjadi politik uang, uang, uang melulu di setiap kampanyenya (money politics),
ada serangan fajarlah, ada berbagai sembako yang di bagikanlah, sumbangan sana sini
untuk pembangunan fasilitas umumlah, klise.
Setelah bergulat dengan pemikiranku yang
bercabang kemana – mana penuh dengan banyak tanda Tanya belum ku temukan
satupun jawaban pastinya, aku ingat dengan Bapak yang dari tadi berjualan di
atas terik dan panasnya suhu ibu kota, sejak dari matahari yang masih condong
di ufuk timur sampai sudah condong dan hampir tenggelam di ufuk barat masih
berjualan menjajakan kotak yang di dalamnya terdapat berbagai jenis makanan,
minuman dingin maupun panas, permen, rokok dan koran yang berada di dalam tas
yang di selempangkan di punggunya, menawarkan setiap pengguna jalan yang sedang
menunggu lampu merah untuk berwarna hijau, satu persatu dia tawarkan, namun
hanya 1 atau 2 orang saja yang membeli asongannya, apakah di pikiran mereka
sama seperti yang ada di pikiranku saat itu? mungkin karena kasihan melihat
bapak tua itu yang sudah seharusnya diam di rumah menikmati masa senjanya di
rumah sambil bermain dengan cucunya, menceritakan tentang bagaimana masa
mudaya, bagaimana negeri kita ini 50 tahun yang lalu seperti yang kebanyakan
dilakukan oleh orang – orang senja, namu tidak dengan bapak itu, dia harus
menyimpan cerita itu terlebih dahulu untuk cucu – cucunya di rumah.
Aku yang sedari tadi diam di halte menunggu
bus yang datang, tidak henti – hentinya memperhatikan bapak itu sambil membaca
koran yang kubeli dari bapak tua itu, tidak hanya koran yang aku beli beberapa
bungkus roti untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan menunggu bus
yang tak kunjung datang, permen, dan 2 botol minuman dingin aku beli darinya,
aku memperhatikan senyum manisnya dari kejauhan, sesekali dia mengusap keringat
yang mengalir di dahinya dengan handuk kecil yang dia kalungkan di lehernya.
Tersenyum kepada semua pengguna jalan sambil menawarkan dagangannya, sering
kali dia di klakson terus – menerus oleh pengguna jalan yang sudah tidak
sabaran untuk segera tancap gas ketika lampunya sudah hijau, bapak itupun
bergegas menepi dengan jalan yang mebungkuk tidak setegap 30 tahun yang lalu,
dia menyingkir dengan hati – hati karena sudah tidak selincah dulu, dia tidak
mampu berhalan cepat apalagi berlari dan kaki yang menahan panasnya aspal
jalanan ibu kota. Miris melihat banyaknya nasib rakyat negeri kita ini yang
sudah semakin menderita berbanding terbalik dengan semakin mewahnya kehidupan
wakil rakyat yang sudah di atas langit.
Kapan mereka mendapatkan kebahagiaan di negeri
mereka yang konon negeri kaya dengan sumber daya alam yang melimpah dari Sabang
sampai Merauke? Sepertinya sumber daya alam yang melimpah itu sudah habis oleh
perusahaan luar negeri yang mengolahnya sampai habis menegering dan menciut,
seolah – olah kekayaan alam yang melimpah itu sudah menjadi wacana klise yang
berujung pada mitos di negeri ini. Kapan kita sebagai rakyat kecil
terselamatkan dari bencana kemiskinan dan kemelaratan di negeri sendiri?
Mungkin sampai saya berhenti untuk menulis wacana ini belum juga selesai, atau
sampai negeri kita berubah nama menjadi “Negeri yang dulunya kaya dan makmur“
tidak lagi seperti lagu – lagu dan wacana yang menggambarkan kekayaan negeri
ini sampai ke seantero jagat raya. Lucunya kita menjadi budak di tanah
kelahiran kita sendiri.