Lagi belajar jadi penulis , walau masih amatir.
Broken
sekitar pertengahan bulan Juni 2013
Kau yang biasanya mengirimkan ucapan “ selamat pagi” atau “ good morning
my lovely” kini tak ada lagi , tak ada lagi yang melakukan hal itu di pagi ini.
Pagi yang tidak biasa ku hadapi , pagi yang menurutku tanpa sinar pagi yang
luar biasa memberikan semangat pagi. Pagi yang dingin tidak seperti biasanya,
pagi ini aku tidak memiliki gairah hidup, demi Tuhan aku tidak bersemangat pagi
ini. Setelah kuingat apa yang terjadi semalam, aku masih tidak isa
membayangkannya, aku masih tidak menyangka, seolah – olah itu hanyalah mimpi
buruk. Hari ini akan jadi hari dimana aku kehilangan sebagian nyawaku yang
telah terbang pergi seperti enggan untuk kembali ke badannya. Oke, aku berusaha
melewati pagi ini seperti biasanya , meskipun tanpa semangat , dan doa restu
darinya yang mengiringi langkahku. Siang ini, tidak seperti biasanya juga,
tanpa pesan yang mengingatkan ku untuk makan siang , tidak ada lagi yang
mengingatkanku untuk menjaga pola makanku, dan tidak ada lagi yang memberi
suntikan semangat untuk kegiatanku yang hingga sore hari.
Aku menjalani hari ini tidak seperti biasanya. Aku hanya bisa melihat
fotonya yang masih kusimpan dan berjuta pesannya yang belum ku hapus itu
kembali ku baca satu persatu. Dan aku harap pesannya yang baru masuk ke ponselku.
Aku baca satu persatu, setiap katanya yang penuh kenangan manis aku kembali
mengingat masa itu, ketika dia masih berada di sisiku, masih menggenggam
tanganku sambil berkata bahwa dia tidak ingin kehilangaku sambil membisikan
kata “ I love you “ yang membuatku semakin tidak ingin kehilangannya dan tidak
ingin meninggalkannya, aku sangat menyayanginya, aku merasa aku hidup untuknya
dan dia hidup untukku. Akupun tersenyum bahagia dalam pelukan hangatnya.
Kenangan itu masih terbayang –
bayang di benankku. Air mataku pun menetes
, aku tidak kuasa menahan kesedihan akan
kehilangan diriya. Dalam kesedihan aku memeluk fotonya sambil berharap
bahwa dia akan kembali padaku.
Sore yang tidak biasa ku lewati, aku masih mengingat disaat dia masih bisa
meluangkan waktunya untuk menjemputku. Mengajakku keliling – keliling dahulu
sebelum mengantarku pulang dan sebelum dia pulang aku selalu mengatakan agar
dia berhati – hati di jalan dan menyisipkan kata “ I love you” sebelum dia
pergi. Memanfaatkan waktu untuk bersama – sama itulah caranya untuk menjaga
hubungan agar tidak terkesan biasa –
biasa saja, selalu ada kejutan manis yang menurut orang lain tidak berarti apa
- apa tapi menurutku itu sangat manis.
Aku bahagia saat itu , aku tidak meyangka akan mendapatkan sosok sesempurna dia
dalam hidupku. Dan kini aku kehilangan sosok sempurna itu, tidak ada lagi yang
memberiku kejutan mais, tidak ada lagi yang menjemputku sembari mengajakku
jalan – jalan sebelum mengantarku pulang, tidak ada lagi kata “I love you” lagi
yang dia bisikan untukku,dan tidak ada lagi sosok sempurna itu di hari- hariku.
Malam yang sangat dingin dan tidak seperti biasanya, sangat kesepian dan
hanya sendiri. Tidak ada pesan yang masuk ke ponselku menemaniku melewati
malam, menjelang tidurku. Atau telpon yang selalu berdering setiap pukul 08.00
menandakan bahwa kau yang menelponku, nada panggilan lagu favorit kita berdua.
Kita mengobrol lewat telpon sampai malam, kita tidak pernah kehilangan topik
untuk di perbincangkan, dia sebagai sosok pendengar yang baik, aku selalu
bercerita tentang apa saja yang aku alami seharian tadi, dia selalu
mendengarkan setiap keluh dan kesahku, dan dia selalu memberiku saran dan
nasehat untukku, bahkan dia selalu menenangkanku di saat aku bimbang, di saat
aku takut, dia saat aku sangat membutuhkan penyegaran akan semua masalahku, dia
selalu ada untukku saat itu. Kita
berbincang – bincang sampai di antara kita ada yang tertidur lebih dulu, dan
saat itulah kita tahu bahwa harus mengakhiri pembicaraan kita. Diselipkan kata
“ I love you “ sebelum menutup telpon.
Sekarang telpon itu tidak berdering baik itu menandakan ada pesan baru atau
panggilan darimu , panggilan dari hatimu yang rindu padaku.
Malam yang dingin tidak ada yang memeluk memberi kehangatan dari jauh.
Aku sendirian , kesepian, tanpa harapan.
Kubuka jendela kamarku dan menatap bulan dengan bintang yang menghiasi di
sekitarnya. Berharap kau sedang melakukan hal yang sama di sana, kusampaikan
bahwa aku sangat merindukan dirimu dan berharap bulan dapat menyampaikan
pesannya padamu. Aku sangat kesepian tanpamu, sangat kesepian. Aku terbiasa
melewati malam denganmu, dan sekarang aku terpakasa melewati malam tanpamu. Aku
terbiasa hidup denganmu, bukan tanpamu. Malam yang ingin cepat – cepat kulewati, aku
ingin segera tertidur. Aku berusaha memejamkan mataku, tapi aku tidak bisa.
Masih ada sesuatu yang kurang ketika aku tertidur, dan itu dirimu. Setiap malam
aku mengalami kesulitan tidur, aku hanya terdiam, termenung, menatap langit
malam sampai larut malam atau sampi dini hari. Aku tidak tahu harus melakukan
apa, dan satu – satunya keinginanku adalah tertidur dengan tenang seperti
biasanya. Berharap aku terbangun esok pagi dan semua ini hanya mimpi buruk. Dan
jika ini hanya mimpi buruk,aku tidak ingin tertidur lagi ,karena mimpi ini
sangat menyiksa bathinku.
Aku terbangun karena sudah pagi, segera mengecek ponselku berharap ada
pesan darimu yang mengucapkan selamat pagi masuk ke ponselku seperti biasanya.
Setelah ku cek, air mataku jatuh. Ternyata dirimu sudah pergi, kita tidak dapat bersama lagi. Aku menangis
sejadi – jadinya, seolah – olah tidak terima kenyataan. Hidupku yang sekarang
inilah yang namanya mimpi buruk, rasanya ingin tidur dan enggan untuk bangun
lagi. Bagiku mimpi dan kenyataan sama saja , sama saja aku kehilanganmu. Aku
mengingat berjuta memori bersamamu , berjuta kenangan yang harus aku lupakan,
tugas terberat dan terburuk yang pernah aku dapat. Mimpi buruk itu terjadi,
secepat itu. Selama itulah aku hanya bisa menagis. Miris….
Aku teringat dimana selalu ada pertengkaran kecil dalam
hubungan kita , dan selalu saja aku berhasil di buatnya menangis karena
kelakuannya, dia tidak memberiku kabar seharian yang membuatku menangis , aku
yang saat itu sangat khawatir, seketika marah dan kesal itu menjadi air mata
yang membasahi pipiku ketika dia menelponku , dia berusaha menenangkan ku dan
menjelaskan sebab – sebabnya, aku pun tenang kembali. Seolah ingin membayar
kesalahannya, dia pun menyanyi untukku
sembari mengantarku tidur, dia bukan penyanyi profesional, dia hanya menyanyi
untukku, nyanyian penghantar tidurku. Ingin rasanya mendengarnya lagi,
mendengar suaranya lagi, suara yang di sertai tawa kecilnya yang terngiang –
ngiang di telingaku. Ya Tuhan , aku sangat merindukan dirinya , bahkan suaranya
pun tak pernah ku dengar lagi, suaranya yang membuatku tenang itu telah hilang,
aku tidak ingin menggatikan dirinya di hidupku , aku masih berharap dia kembali
lagi.
Aku masih mengingat ketika dia juga khawatir kepadaku , ketika aku pergi
tanpa diriya , dan aku tidak sempat memberinya kabar betapa khawatirnya dia ,
sungguh aku tidak tega ketika wajah khawatirnya memelukku, aku menyesal
membuatnya khawatir. Maafkan aku sayang, aku jarang memberimu kabar , bukannya
bermaksud balas dendam karena kamu jarang memberiku kabar. Hanya saja aku benar
– benar tidak sempat memberimu kabar. Dan sekarang tidak ada lagi sosok yang
khawatir ketika aku tidak memberinya kabar , tidak ada lagi sosok yang selalu
menunggu pesanku dan sosok yang selalu aku tunggu pesannya.
Dan betapa bahagianya dirimu begitu melihatku marah , aku masih ingat
kalau kamu sangat suka melihatku ngambek , entah lucu darimananya , kamu selalu
tertawa kecil ketika aku ngambek. Dan sekarang tidak ada lagi dirimu yang
seperti itu lagi, yang selalu menggodaku dikala aku ngambek , selalu membuatku
merasa seperti anak kecil di kala aku ngambek, dan akhirnya aku pun tertawa
kembali seperti semuanya menjadi lelucon ,aku sangat merindukan masa – masa itu
sayang. Masa – masa yang begitu indah , begitu manis, begitu sakit jika kucoba
utuk melupakkanya.
Dirimu yang begitu dewasa berbanding terbalik dengan sikapku yang manja
dan masih sangat kekanak – kanakan membuatku begitu rapuh tanpa dirimu, seperti
tidak mempunyai sang penuntun lagi di terowongan yang begitu gelap dihidupku ,
aku sangat kehilangan arah tanpamu, entah aku masih biasa hidup atau aku akan
mati , tenggelam dalam rasa kehilangan yang begitu dalam. Sosok yang sangat
dewasa , namun terkadang manja , dan kekanak – kanakan dan kau bisa menjadi
dewasa di saat aku menjadi manja, sebaliknya kau menjadi manja di saat aku
menjadi dewasa , sosok pelengkap itu tidak
melengkapi hidupku lagi.
Terkadang kita pernah berangan - angan kita bisa bersama selamanya. Kita
bisa berbagi suka dan duka bersama, saling melengkapi satu sama lain. walaupun
aku masih tau bahwa itu masih belum pantas untuk di bayangkan. Mengingat ada
tembok tinggi yang memisahkan kita. Dan masih ada banyak waktu untuk meraih
cita - cita terlebih dahulu sebelum kita membicarakan hal itu. Masih terlalu
dini untuk di pikirkan. Feelingku selalu berkata begitu, aku lahir hanya untuk
dirimu dan kamu untuk diriku.
Ternyata feelingku itu
salah, justru begitu cepat kita berpisah. Begitu cepat untuk semua ini,terlalu
cepat untukku, bahkan kau pergi menghilang, tidak ada kabar, tidak pernah
kulihat lagi sosokmu sejak malam itu. Malam saat dimana kita memutuskan untuk
berpisah. Sejak saat itu dirimu, dan semua yang besifat tentangmu itu hilang
dengan sekejap , tidak berbekas. Aku tidak siap kehilangan dirimu, tapi kau
telah pergi dengan sekejap dan tidak berbekas sama sekali. Dan aku merasa
kebersamaanku degan dirimu bagaikan mimpi, mimpi yang begitu indah, dan berubah
menjadi sampah ketika ku terbagun.
Harapanku begitu besar bersamamu, begitu indah, begitu tinggi, dan begitu
sakit saat harapan itu terjun bebas, hancur , remuk berantakkan, hancur
berserakan. Ketika tingginya mimpiku tentang kita, tiba – tiba harus hancur
jatuh berserakan begitu terucap perpisahan. Tidakkah kau bayangkan betapa
terpukulnya diriku? Betapa hancurnya perasaanku saat itu. Aku sendirian
memungut sisa – sisa impian kita yang telah hancur sendirian, mencoba merangkai
kembali tetapi tak bisa, aku tak sangup merangkai itu sendiri, aku butuh dirimu
saat ini sayang.
Aku menitipkan hatiku
sebagian untukmu dan sebagian lagi untukku. Aku ingin kau menjaga hati ini,
berharap agar kau tidak menghancurkan hati ini, kita sudah berjanji tidak ingin
menyakiti satu sama lain, berjanji tidak akan meninggalkan, kita berjanji tidak
akan menyerah pada keadaan, kita akan melewati semuanya bersama. Kau telah
ingkar janji, kau menghancurkan hati ini, kau menjatuhkannya, kau
menhancurkannya berkeping – keping, dan kau meninggalkannya, kau menyerah pada
keadaan, kau meyerah pada semua ini, aku mengambil hati yang hancur itu ,
mencoba untuk memperbaikinya, menyunsunnya kembali, tapi tidak bisa akhirnya
serpihan hati ini pergi dan menghilang diterbangkan oleh tiupan angin malam.
Kini hatiku tinggal setengah, dan itupun juga hancur.
Kamu memang tidak meninggalkan dunia ini , namun dirimu sebagai orang yang
sangat aku sayang dan dulu sangat menyayangiku , yang dulu pernah menjadi
bagian dihidupku yang sudah mati. Rasa yang dulu pernah ada untuk diriku sudah padam, rasa cinta yang ada di antara
kita berdua sinarnya sudah meredup, seolah – olah aku kehilangan sosok dirimu
yang dulu untuk selama – lamanya. Bagiku kau yang dulu sudah mati , ya
begitulah kekesalanku ketika kau telah berubah. Aku pesimis dirimu bisa kembali
seperti yang dulu , dan sinar di cinta kita berdua bisa terang lagi seperti
yang dulu, semua hal – hal yang bersifat dulu di antara kita, ingin aku rasakan
kembali kehangatannya.
Aku hanya mengenalmu sebagai sosok yang dingin , bukan kepada semua orang
, kamu hanya dingin kepadaku. Aku merasakannya seperti itu, ada apa dengan
dirimu? Begitu tidak pentingnya aku bagimu? Begitu bencikah dirimu kepadaku?
Begitu inginnya kamu melupakkanku dan pergi meninggalkan diriku sendiri? Apa
salahku? Pertanyaan itu yang selalu terbayang – bayang , selalu memutar di
pikiranku. Apakah ini semua salahku? Aku
egois , aku cerewet , aku banyak menuntut , aku kekanak – kanakan ,aku manja , aku
over dramatis, aku terlalu menyayangimu, dan aku takut kehilanganmu. Maafkan
aku yang telah membuatmu lelah untuk menghadapi semua sikapku itu.
Sekarang kau tega membawaku ke sebuah dongeng di panggung kehidupan yang
di sana hanya aku yang berperan di dalamnya,aku sendirian, tanpa dirimu sebagai
lawan main yang melengkapi cerita itu.
Aku tidak tahu harus berperan apa , aku kaku, mulutku terkunci rapat tidak bisa
berkata apapun sebagaimana mestinya aku menghafalkan dialog itu, aku panik
dimana tidak ada secercah sinar lampu sorot yang biasa menyinari tokoh di saat tampil, gelap tidak ada yang
bisa melihatku, aku tenggelam dalam riuh tepuk tangan para penonton tanpa tahu
apa yang sedang mereka tepuk tangani , aku jatuh tersungkur, menangis miris,
dan putus asa begitulah aku tanpamu.
Hampir 1 bulan kita berpisah, dan selama 1 bulan itu aku masih menangisi
semua yang terjadi, masih sering mengingat – ngingat memori kita dahulu
yang hanya sebentar, walau sebentar tapi
begitu banyak kenangan manis yang sulit untuk aku lupakan. Dan setiap malam
selama 1 bulan itulah aku masih terjaga hingga dini hari, karena kesulitan
tidur. Bagaimana aku bisa tidur jika selama tidur itu dalam mimpi aku masih
memimpikanmu? Terjaga saat subuh dan kembali menagis karena memimpikan dirimu,
aku menangis karena dalam mimpi aku hanya bisa melihatmu, tak bisa menyentuhmu,
tak bisa merasakan hangatnya pelukanmu walaupun hanya dalam mimpi. Dan terkadang
aku menangisi dirimu sampai larut mlam bahkan samai dini hari. Tidakkah kau
merasakan hal yang sama?
Aku tak tahu bagaimana cara melupakanmu, melupakan semuanya, semuanya. Aku
mencoba mencari kesibukkan lain, berharap dengan cara mencari kesibukan lain
aku bisa melupakkanmu secara perlahan ,
dan ternyata itu tidak bisa. Mencoba mencari penggantimu, tapi aku tidak
sanggup melakukannya. Jujur aku masih menyimpan berjuta kenanganmu, aku masih
menyimpan foto – fotomu, aku masih menyimpan pesanmu , dan aku masih menyimpan
dirimu di dalam hatiku. Sedikitmu aku tidak ingin menghapusnya, berat rasanya
hati ini untuk menghapusnya, entah kenapa. Namun hanya itu yang bisa kujadikan
pengganti dirimu sebagai pengobat rindu. Orang – orang mungkin menyangkan aku
sudah tidak waras lagi , aku tidak peduli, aku masih tetap keras kepala,
merareka tidak mengerti perasaanku, bagaimana rasanya jadi diriku, termasuk
dirimu…
Aku ingin kau merasakan bagaimana jadi diriku, bagaimana jadi seorang
wanita yang hanya bisa menangis di kondisi seperti ini. Aku memang masih kau
anggap anak kecil , masih labil , bahkan semua yang aku katakan bagimu hanya
ocehan anak kecil yang masih labil ,aku mengerti itu. dan bahkan sekarang kau
seolah – olah ingin menjauhiku, tidak ingin menampakkan dirimu dihadapanku,
selalu menghindar, bahkan kau menganggapku orang asing. Apa salahku? Tega kau
seperti itu padaku, disini aku sangat ingin bertemu denganmu, membicarakan
semua yang ada di hati dan pikiranku selama ini. Namun kau malah menghilang, bukankah
kita pernah berjanji bahwa kita masih berteman , masih menjaga komunikasi
seperti biasanya. Namun kenyataannya? Jauh dari harapanku, haahh…
Aku memang tidak terima dengan kenyataan yang aku alami sekarang, saat kau
memutuskan untuk berpisah denganku, mengakhiri semuanya karena kau sudah lelah
dengan semua ini , lelah dengan diriku yang selalu menangis di setiap
perdebatan kita. Tangisanku yang membuatmu pergi dari hidupku. Pergi karena kau
tidak ingin terus – menerus melihatku menangis karena dirimu. Ingin rasanya aku
mengatakan bahwa semua itu salah, dengan dirimu pergi dari hidupku itu yang
membuat tangisanku semakin menjadi , tangisanku semakin keras, ingin rasanya
aku berteriak bahwa semua itu salah.
Ku coba untuk tetap
tegar, mencoba menerima, mencoba membuka hati kembali, mencoba menerima cinta
yang baru. Jujur sulit ku lakukan, sebenarnya aku tidak mau kembali mencari,
aku lelah untuk mencari cinta yang baru, dengan sifatku yang selektif, sulit
untuk mencari seseorang yang baru , yang
menyenangkan dan membuatku nyaman sepertimu. Itu sulit untukku, jika boleh
memilih,aku tidak ingin mengenalmu dan tidak ingin jatuh cinta lagi, aku tidak
ingin hatiku hancur lagi. Sulit..
Aku menyusun hidupku
yang baru, menyusun kembali hati yang telah hancur, hati yang tinggal setengah, aku tidak mengetahui
pasangan hati ini telah hilang kemana. Bersama hati yang hancur, aku mencoba
hidup normal, mencoba untuk focus ke hal – hal lain. Focus dengan hidupku yang
tanpa dirimu, aku mencoba berkembang, berkembang menjadi orang yang kuat dan
tegar, mencoba melupakan kisah – kisah yang menyakitkan, dan mencoba
memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik. Mencoba hidup normal.
Dan di setiap malamku ,
aku hanya bisa menuliskan keluh dan kesahku di atas kertas, di note yang ada
pada ponselku atau di aplikasi pengolah kata yang ada di laptopku, karena
tempatku untuk berkeluh kesah sudah tidak ada lagi, aku menuliskan kata demi
kata yang ada di hatiku. Sedikit berlebihan, aku tidak peduli. Aku hanya bisa
bercerita lewat hati yang di tuliskan oleh jemariku. Hanya sebagian kecil dari
curahan hatiku.
Dear you,
sekitar pertengahan bulan Juni 2013
Aku sangat merindukanmu,
sangat rindu.
Bahkan aku tidak sanggup
untuk menahan rasa kesepianku setiap malam, aku tidak sanggup untuk
menyimpannya, aku ingin membaginya denganmu, tapi niatan hendak membagi malah
tangisan yang kualami, tangisan karena kerinduan itu tidak tersampaikan.
Tuhan , sebenarnya aku
tidak seperti ini terus menerus, memaksakan diriku untuk membuang dan melupakan
rasa cinta yang dulu pernah ada, rasa ini terlalu sayang untuk di buang, rasa
yang seharusnya bisa memberikan bahagia, malah sakit yang kurasakan.
Aku bahagia bisa merasakan cinta, cinta yang aku sendiri merasakannya,
aku sendiri pula yang membaginya.
Aku bahagia bisa
merasakan cinta, cinta dari hati, dari ketulusan, dan dari keikhlasan
menyayangi, tak mengharapkan imbalan.
Walupun itu imbalan dengan
rasa cinta yang sama. Bagiku cinta tanpa dirimu, itu saja sudah cukup.
Aku dan dengan
bayangmu saja sudah bahagia, bayang dirimu yang ku buat sendiri mimik ekspresi
wajahmu, ku buat sendiri bayanganmu di saat kau tersenyum padaku, di saat kita
bersama. Kau dan aku bahagia saat itu.
Aku seperti memainkan
boneka, tak apa bagiku, yang penting aku bisa merasakan dan menjaga rasa cinta
itu, walaupun terselipkan tangis di dalamnya.