Kamis, 26 Desember 2013

cerita fiksi, karangan dunia khayalku


Jarak dan LDR :’)

Jarak jarak jarak , kalau bisa ku definisikan jarak itu adalah sebuah batasan. Ya! jarak membatasi segalanya, membatasi suatu benda, membatasi antar kendaraan di jalan raya, ada rumus fisika yang membahas tentang jarak itu, termasuk membatasi 2 hati yang saling terpaut dalam satu hubungan :') 
Jarak bisa dijadikan si biang keladi api perdebatan bagi kita yang sedang berhubungan jarak jauh, salah komunikasi saja bisa jadi masalah dan perdebatan, wajar sajalah 2 pihak yang sama - sama ingin di perhatikan, membutuhkan perhatian, saling merindukan yang tentunya menjadikannya saling sensitif satu sama lain, bagaikan menyiram bensin  ke api pada sebuah lilin kecil, masalah yang kecil bisa menjadi besar dan masalah yang besar bisa tambah di besar - besarkan, begitulah problema pasangan LDR. 
Itulah yang aku rasa selama ini, kita menjalani hubungan jarak jauh, selama kurun waktu itulah kita sama - sama menahan keegoisan masing - masing, dan selama itulah aku selalu di cekoki dengan pertengkaran, perdebatan dan permasalahan yang muncul di antara kita. Dirimu yang begitu sabar, dipaksa untuk jauh lebih sabar lagi menghadapi sifatku yang manja, selalu ingin di perhatikan, dan tidak sabaran berbanding terbalik dengan dirimu yang selalu ngemong dan menyayangiku lebih, ya kamu dewasa, kamu jauh lebih dewasa dari diriku, sikapmu dewasa lebih dari usiamu.
Tidak hanya itu, kita berdiri membangun sebuah hubungan di atas berbagai perbedaan, kita hanya berlandaskan cinta untuk membangunnya sedikit demi sedikit, perbedaan yang begitu sulit untuk disamakan, ibarat benang kusut begitu sulit untuk kita benahi, begitu sulit untuk kita luruskan, begitu kusutnya untuk di rajut, dan begitu sakit untuk diingat :’), kita berdiri di atas 2 keyakinan yang berbeda, tapi kita coba untuk tetap bersama, kita yakin pasti ada jalan keluar untuk permasalahan ini, kita yakin kita bisa bersama dalam perbedaan, bukankah perbedaan itu indah? Tapi tidak indah untuk yang satu ini, kita berdiri tegak berdampingan di antara jurang terjal yang dalam, dan tidak berdasar. Kita di batasi oleh tembok tinggi perbedaan, jadi bagaimana caranya kita harus bisa bersama walau harus di batasasi dalam segala hal, itu kesakitan kedua yang aku alami.
Kesakitan ketiga yang aku alami, tau kalau dirimu yang harus pergi meninggalkanku untuk menuntut ilmu di pulau seberang, ya memang tak jauh, kau tak berada di kutub utara atau sedang berada di luar angkasa, hanya saja jarak yang kita alami lebih jauh dari sebelumnya, kau menuntut ilmu di kota kembang Bandung, aku di sini di pulau Dewata Bali. Ya bisa di hitung sendiri berapa jarak antara Bandung ke Denpasar, ya hitunglah saja sendiri berapa lama rambatan signal kerinduan yang harus kami lewati, meninggalkanku beberapa tahun kedepan, dan kita di paksa harus menjalani hubungan jarak jauh, memang teknologi sudah begitu canggihnya, bisa mendekatkan bagi yang jauh, seolah olah jarak itu hanya sebuah mitos, teknologi yang canggih bisa dengan mudahnya mendekatkan setiap orang, termasuk mendekatkan hati 2 anak manusia yang sudah terlanjur terpaut :’).
Salah satu sarana yang paling sering kita gunakan untuk melepas kerinduan di antara jarak adalah komuikasi melalui telepon, pesan singkat, ataupun social media, hanya sarana tersebut yang kita rasa paling tepat untuk melepas kerinduan dan paling bisa mendekatkan kita dari kejauhan, komunikasi inilah yang menyebrangkan cinta kita, agar hati kita yang sudah terpaut semakin terpaut, sangat terpaut, sampai menyatu hingga kita sudah tidak tahu lagi bagaimana carana kita untuk berpisah, aku pernah sampai berharap kita itu bisa sampai selamanya seperti ini, saling mencintai, saling menyayangi sampai nanti sampai kita tua dan memiliki anak - anak yang kelak bisa mewarnai rumah kita nanti, itu semua sudah ada dalam bayang – bayangku sampai – sampai aku telah menyiapkan nama untuk mereka dengan nama – nama lucu yang mencerminkan kisah cinta kita.
Kau pun begitu meyakinkanku untuk selalu memilihmu, mempercayakanmu, tetap bersamamu walau apapun yang terjadi, bisakah kau tetap menggenggam erat tanganku, menemaniku untuk melewati hutan lebat, jurang yang dalam, lembah yang terjal, tebing yang curam, sungai yang luas dengan arus derasnya untuk mencapai sebuah bukit indah di sana? di situlah merupakan tujuan akhir kita sayang. Aku harap kamu mau melewati itu bersamaku, berdua, karena ku yakin kita ini kuat, karena kita di bangun oleh pondasi yang sudah terbiasa oleh hantaman permasalahan yang muncul, jadi aku rasa kita kuat mewati semua ini.
Hari demi hari aku lewati bersama kesepian dan di setiap malamnya aku lewati dengan dinginnya hembusan angin malam yang erat memelukku, karena kamu jauh di sana dan aku hanya bisa merasakan pelukkanmu dari jauh, dan itupun hanya khayal. dalam khayal aku berbicara, dalam khayal aku menatap dalam matamu, dalam khayal aku melihat senyumanmu, dalam khayal aku merasakan genggaman erat tanganmu, dalam khayal aku merasakan hangatnya pelukanmu, semuanya dalam khayal. dan aku harap kaupun berkhayal tentang hal yang sama, walaupun tidak sama tapi setidaknya kau berkhayal tentangku. :’)
Bulan pertama kita hubungan kita begitu manis, manis sekali, jarak bukannya menjauhkan kita ,justru membuat kita merasa semakin dekat, semakin merindu, semakin sadar bahwa kita begitu menyayangi satu sama lainnya, begitupun bulan kedua, ketiga, bulan keempat mulai mencari kesibukan masing – masing untuk mengisi waktu luang, apalagi aku yang sudah mulai mencari cara untuk mehilangkan kejenuhan menunggumu sampai selesai semua aktifitas kuliahmu, tapi aku rasa makin hari malah terasa semakin jauh, semakin jarang berkomunikasi tidak seperti 3 bulan sebelumnya, aku mulai merasakan hawa dingin dalam hubungan kita, tapi aku tidak ingin menganggapnya masalah besar, mungkin setiap pasangan LDR pasti merasakannya, aku anggap itu hal yang wajar sajalah.
Bulan kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh mengapa hawa dinginnya semakin menusuk tulang ya? aku butuh selimut tebal untuk menutupi hubungan ini agar hangat kembali seperti di bulan – bulan awal sayang, kamu punya gak? selimutku masih belum cukup untuk menghangatkannya, kita semakin berjauhan, semakin jarang berkomunikasi, ya aku tahu kamu semakin sibuk disana, semakin sibuk dengan urusanmu yang entah apa itu yang tidak ku ketahui lagi semua, kabar pun jika aku beruntung bisa di beritahu olehmu, jika tidak aku sms kamu dan tidak kamu balas, alias aku tidak mendapatkan kabar darimu, begitu sibukkah dirimu sampai – sampai memberiku kabar saja waktumu tersita? masih sempatkah kau memikirkanku? mengapa hubungan kita menjadi sangat dingin sekarang? tidak ada lagi kehangatan dan komunikasi mesra dan kata – kata manis dari pesanmu atau mulutmu melalui telfon. aku tidak menemukan dirimu yang dulu, kemana dirimu yang dulu? hilang? tenggelam? tenggelam dan tertergantikan oleh dirimu yang sekarang. Aku menginginkan hubungan kita yamg dulu, kehangatan dan candaan mesra dan manis seperti yang dulu. Aku tunggu itu.
Bertahan sampai aku mulai lelah dan siap untuk menulis kisah lanjutannya, aku harap aku masih bisa menulis dan mengingat kisah itu. Gadis yang masih menunggu kekasihnya.



 


Selasa, 01 Oktober 2013

sekitar pertengahan bulan Juni 2013


Lagi belajar jadi penulis , walau masih amatir. 
Broken 
sekitar pertengahan bulan Juni 2013 
Kau yang biasanya mengirimkan ucapan “ selamat pagi” atau “ good morning my lovely” kini tak ada lagi , tak ada lagi yang melakukan hal itu di pagi ini. Pagi yang tidak biasa ku hadapi , pagi yang menurutku tanpa sinar pagi yang luar biasa memberikan semangat pagi. Pagi yang dingin tidak seperti biasanya, pagi ini aku tidak memiliki gairah hidup, demi Tuhan aku tidak bersemangat pagi ini. Setelah kuingat apa yang terjadi semalam, aku masih tidak isa membayangkannya, aku masih tidak menyangka, seolah – olah itu hanyalah mimpi buruk. Hari ini akan jadi hari dimana aku kehilangan sebagian nyawaku yang telah terbang pergi seperti enggan untuk kembali ke badannya. Oke, aku berusaha melewati pagi ini seperti biasanya , meskipun tanpa semangat , dan doa restu darinya yang mengiringi langkahku. Siang ini, tidak seperti biasanya juga, tanpa pesan yang mengingatkan ku untuk makan siang , tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk menjaga pola makanku, dan tidak ada lagi yang memberi suntikan semangat untuk kegiatanku yang hingga sore hari.
Aku menjalani hari ini tidak seperti biasanya. Aku hanya bisa melihat fotonya yang masih kusimpan dan berjuta pesannya yang belum ku hapus itu kembali ku baca satu persatu. Dan aku harap pesannya yang baru masuk ke ponselku. Aku baca satu persatu, setiap katanya yang penuh kenangan manis aku kembali mengingat masa itu, ketika dia masih berada di sisiku, masih menggenggam tanganku sambil berkata bahwa dia tidak ingin kehilangaku sambil membisikan kata “ I love you “ yang membuatku semakin tidak ingin kehilangannya dan tidak ingin meninggalkannya, aku sangat menyayanginya, aku merasa aku hidup untuknya dan dia hidup untukku. Akupun tersenyum bahagia dalam pelukan hangatnya. Kenangan  itu masih terbayang – bayang  di benankku. Air mataku pun menetes , aku tidak kuasa menahan kesedihan akan  kehilangan diriya. Dalam kesedihan aku memeluk fotonya sambil berharap bahwa dia akan kembali padaku.
Sore yang tidak biasa ku lewati, aku masih mengingat disaat dia masih bisa meluangkan waktunya untuk menjemputku. Mengajakku keliling – keliling dahulu sebelum mengantarku pulang dan sebelum dia pulang aku selalu mengatakan agar dia berhati – hati di jalan dan menyisipkan kata “ I love you” sebelum dia pergi. Memanfaatkan waktu untuk bersama – sama itulah caranya untuk menjaga hubungan agar tidak terkesan  biasa – biasa saja, selalu ada kejutan manis yang menurut orang lain tidak berarti apa -  apa tapi menurutku itu sangat manis. Aku bahagia saat itu , aku tidak meyangka akan mendapatkan sosok sesempurna dia dalam hidupku. Dan kini aku kehilangan sosok sempurna itu, tidak ada lagi yang memberiku kejutan mais, tidak ada lagi yang menjemputku sembari mengajakku jalan – jalan sebelum mengantarku pulang, tidak ada lagi kata “I love you” lagi yang dia bisikan untukku,dan tidak ada lagi sosok sempurna itu di hari- hariku.
Malam yang sangat dingin dan tidak seperti biasanya, sangat kesepian dan hanya sendiri. Tidak ada pesan yang masuk ke ponselku menemaniku melewati malam, menjelang tidurku. Atau telpon yang selalu berdering setiap pukul 08.00 menandakan bahwa kau yang menelponku, nada panggilan lagu favorit kita berdua. Kita mengobrol lewat telpon sampai malam, kita tidak pernah kehilangan topik untuk di perbincangkan, dia sebagai sosok pendengar yang baik, aku selalu bercerita tentang apa saja yang aku alami seharian tadi, dia selalu mendengarkan setiap keluh dan kesahku, dan dia selalu memberiku saran dan nasehat untukku, bahkan dia selalu menenangkanku di saat aku bimbang, di saat aku takut, dia saat aku sangat membutuhkan penyegaran akan semua masalahku, dia selalu ada untukku saat itu.  Kita berbincang – bincang sampai di antara kita ada yang tertidur lebih dulu, dan saat itulah kita tahu bahwa harus mengakhiri pembicaraan kita. Diselipkan kata “ I love you “  sebelum menutup telpon. Sekarang telpon itu tidak berdering baik itu menandakan ada pesan baru atau panggilan darimu , panggilan dari hatimu yang rindu padaku.
Malam yang dingin tidak ada yang memeluk memberi kehangatan dari jauh. Aku  sendirian , kesepian, tanpa harapan. Kubuka jendela kamarku dan menatap bulan dengan bintang yang menghiasi di sekitarnya. Berharap kau sedang melakukan hal yang sama di sana, kusampaikan bahwa aku sangat merindukan dirimu dan berharap bulan dapat menyampaikan pesannya padamu. Aku sangat kesepian tanpamu, sangat kesepian. Aku terbiasa melewati malam denganmu, dan sekarang aku terpakasa melewati malam tanpamu. Aku terbiasa hidup denganmu, bukan tanpamu.  Malam yang ingin cepat – cepat kulewati, aku ingin segera tertidur. Aku berusaha memejamkan mataku, tapi aku tidak bisa. Masih ada sesuatu yang kurang ketika aku tertidur, dan itu dirimu. Setiap malam aku mengalami kesulitan tidur, aku hanya terdiam, termenung, menatap langit malam sampai larut malam atau sampi dini hari. Aku tidak tahu harus melakukan apa, dan satu – satunya keinginanku adalah tertidur dengan tenang seperti biasanya. Berharap aku terbangun esok pagi dan semua ini hanya mimpi buruk. Dan jika ini hanya mimpi buruk,aku tidak ingin tertidur lagi ,karena mimpi ini sangat menyiksa bathinku.
Aku terbangun karena sudah pagi, segera mengecek ponselku berharap ada pesan darimu yang mengucapkan selamat pagi masuk ke ponselku seperti biasanya. Setelah ku cek, air mataku jatuh. Ternyata dirimu sudah pergi,  kita tidak dapat bersama lagi. Aku menangis sejadi – jadinya, seolah – olah tidak terima kenyataan. Hidupku yang sekarang inilah yang namanya mimpi buruk, rasanya ingin tidur dan enggan untuk bangun lagi. Bagiku mimpi dan kenyataan sama saja , sama saja aku kehilanganmu. Aku mengingat berjuta memori bersamamu , berjuta kenangan yang harus aku lupakan, tugas terberat dan terburuk yang pernah aku dapat. Mimpi buruk itu terjadi, secepat itu. Selama itulah aku hanya bisa menagis. Miris….
 Aku teringat  dimana selalu ada pertengkaran kecil dalam hubungan kita , dan selalu saja aku berhasil di buatnya menangis karena kelakuannya, dia tidak memberiku kabar seharian yang membuatku menangis , aku yang saat itu sangat khawatir, seketika marah dan kesal itu menjadi air mata yang membasahi pipiku ketika dia menelponku , dia berusaha menenangkan ku dan menjelaskan sebab – sebabnya, aku pun tenang kembali. Seolah ingin membayar kesalahannya, dia pun  menyanyi untukku sembari mengantarku tidur, dia bukan penyanyi profesional, dia hanya menyanyi untukku, nyanyian penghantar tidurku. Ingin rasanya mendengarnya lagi, mendengar suaranya lagi, suara yang di sertai tawa kecilnya yang terngiang – ngiang di telingaku. Ya Tuhan , aku sangat merindukan dirinya , bahkan suaranya pun tak pernah ku dengar lagi, suaranya yang membuatku tenang itu telah hilang, aku tidak ingin menggatikan dirinya di hidupku , aku masih berharap dia kembali lagi.
Aku masih mengingat ketika dia juga khawatir kepadaku , ketika aku pergi tanpa diriya , dan aku tidak sempat memberinya kabar betapa khawatirnya dia , sungguh aku tidak tega ketika wajah khawatirnya memelukku, aku menyesal membuatnya khawatir. Maafkan aku sayang, aku jarang memberimu kabar , bukannya bermaksud balas dendam karena kamu jarang memberiku kabar. Hanya saja aku benar – benar tidak sempat memberimu kabar. Dan sekarang tidak ada lagi sosok yang khawatir ketika aku tidak memberinya kabar , tidak ada lagi sosok yang selalu menunggu pesanku dan sosok yang selalu aku tunggu pesannya.
Dan betapa bahagianya dirimu begitu melihatku marah , aku masih ingat kalau kamu sangat suka melihatku ngambek , entah lucu darimananya , kamu selalu tertawa kecil ketika aku ngambek. Dan sekarang tidak ada lagi dirimu yang seperti itu lagi, yang selalu menggodaku dikala aku ngambek , selalu membuatku merasa seperti anak kecil di kala aku ngambek, dan akhirnya aku pun tertawa kembali seperti semuanya menjadi lelucon ,aku sangat merindukan masa – masa itu sayang. Masa – masa yang begitu indah , begitu manis, begitu sakit jika kucoba utuk melupakkanya.
Dirimu yang begitu dewasa berbanding terbalik dengan sikapku yang manja dan masih sangat kekanak – kanakan membuatku begitu rapuh tanpa dirimu, seperti tidak mempunyai sang penuntun lagi di terowongan yang begitu gelap dihidupku , aku sangat kehilangan arah tanpamu, entah aku masih biasa hidup atau aku akan mati , tenggelam dalam rasa kehilangan yang begitu dalam. Sosok yang sangat dewasa , namun terkadang manja , dan kekanak – kanakan dan kau bisa menjadi dewasa di saat aku menjadi manja, sebaliknya kau menjadi manja di saat aku menjadi dewasa , sosok pelengkap itu tidak  melengkapi hidupku lagi.
Terkadang kita pernah berangan - angan kita bisa bersama selamanya. Kita bisa berbagi suka dan duka bersama, saling melengkapi satu sama lain. walaupun aku masih tau bahwa itu masih belum pantas untuk di bayangkan. Mengingat ada tembok tinggi yang memisahkan kita. Dan masih ada banyak waktu untuk meraih cita - cita terlebih dahulu sebelum kita membicarakan hal itu. Masih terlalu dini untuk di pikirkan. Feelingku selalu berkata begitu, aku lahir hanya untuk dirimu  dan kamu untuk diriku.
Ternyata feelingku itu salah, justru begitu cepat kita berpisah. Begitu cepat untuk semua ini,terlalu cepat untukku, bahkan kau pergi menghilang, tidak ada kabar, tidak pernah kulihat lagi sosokmu sejak malam itu. Malam saat dimana kita memutuskan untuk berpisah. Sejak saat itu dirimu, dan semua yang besifat tentangmu itu hilang dengan sekejap , tidak berbekas. Aku tidak siap kehilangan dirimu, tapi kau telah pergi dengan sekejap dan tidak berbekas sama sekali. Dan aku merasa kebersamaanku degan dirimu bagaikan mimpi, mimpi yang begitu indah, dan berubah menjadi sampah ketika ku terbagun.
Harapanku begitu besar bersamamu, begitu indah, begitu tinggi, dan begitu sakit saat harapan itu terjun bebas, hancur , remuk berantakkan, hancur berserakan. Ketika tingginya mimpiku tentang kita, tiba – tiba harus hancur jatuh berserakan begitu terucap perpisahan. Tidakkah kau bayangkan betapa terpukulnya diriku? Betapa hancurnya perasaanku saat itu. Aku sendirian memungut sisa – sisa impian kita yang telah hancur sendirian, mencoba merangkai kembali tetapi tak bisa, aku tak sangup merangkai itu sendiri, aku butuh dirimu saat ini sayang.
Aku menitipkan hatiku sebagian untukmu dan sebagian lagi untukku. Aku ingin kau menjaga hati ini, berharap agar kau tidak menghancurkan hati ini, kita sudah berjanji tidak ingin menyakiti satu sama lain, berjanji tidak akan meninggalkan, kita berjanji tidak akan menyerah pada keadaan, kita akan melewati semuanya bersama. Kau telah ingkar janji, kau menghancurkan hati ini, kau menjatuhkannya, kau menhancurkannya berkeping – keping, dan kau meninggalkannya, kau menyerah pada keadaan, kau meyerah pada semua ini, aku mengambil hati yang hancur itu , mencoba untuk memperbaikinya, menyunsunnya kembali, tapi tidak bisa akhirnya serpihan hati ini pergi dan menghilang diterbangkan oleh tiupan angin malam. Kini hatiku tinggal setengah, dan itupun juga hancur.
Kamu memang tidak meninggalkan dunia ini , namun dirimu sebagai orang yang sangat aku sayang dan dulu sangat menyayangiku , yang dulu pernah menjadi bagian dihidupku yang sudah mati. Rasa yang dulu pernah ada untuk diriku  sudah padam, rasa cinta yang ada di antara kita berdua sinarnya sudah meredup, seolah – olah aku kehilangan sosok dirimu yang dulu untuk selama – lamanya. Bagiku kau yang dulu sudah mati , ya begitulah kekesalanku ketika kau telah berubah. Aku pesimis dirimu bisa kembali seperti yang dulu , dan sinar di cinta kita berdua bisa terang lagi seperti yang dulu, semua hal – hal yang bersifat dulu di antara kita, ingin aku rasakan kembali kehangatannya. 
Aku hanya mengenalmu sebagai sosok yang dingin , bukan kepada semua orang , kamu hanya dingin kepadaku. Aku merasakannya seperti itu, ada apa dengan dirimu? Begitu tidak pentingnya aku bagimu? Begitu bencikah dirimu kepadaku? Begitu inginnya kamu melupakkanku dan pergi meninggalkan diriku sendiri? Apa salahku? Pertanyaan itu yang selalu terbayang – bayang , selalu memutar di pikiranku. Apakah ini semua salahku?  Aku egois , aku cerewet , aku banyak menuntut , aku kekanak – kanakan ,aku manja , aku over dramatis, aku terlalu menyayangimu, dan aku takut kehilanganmu. Maafkan aku yang telah membuatmu lelah untuk menghadapi semua sikapku itu.
Sekarang kau tega membawaku ke sebuah dongeng di panggung kehidupan yang di sana hanya aku yang berperan di dalamnya,aku sendirian, tanpa dirimu sebagai lawan main  yang melengkapi cerita itu. Aku tidak tahu harus berperan apa , aku kaku, mulutku terkunci rapat tidak bisa berkata apapun sebagaimana mestinya aku menghafalkan dialog itu, aku panik dimana tidak ada secercah sinar lampu sorot yang biasa menyinari  tokoh di saat tampil, gelap tidak ada yang bisa melihatku, aku tenggelam dalam riuh tepuk tangan para penonton tanpa tahu apa yang sedang mereka tepuk tangani , aku jatuh tersungkur, menangis miris, dan putus asa begitulah aku tanpamu.
Hampir 1 bulan kita berpisah, dan selama 1 bulan itu aku masih menangisi semua yang terjadi, masih sering mengingat – ngingat memori kita dahulu yang  hanya sebentar, walau sebentar tapi begitu banyak kenangan manis yang sulit untuk aku lupakan. Dan setiap malam selama 1 bulan itulah aku masih terjaga hingga dini hari, karena kesulitan tidur. Bagaimana aku bisa tidur jika selama tidur itu dalam mimpi aku masih memimpikanmu? Terjaga saat subuh dan kembali menagis karena memimpikan dirimu, aku menangis karena dalam mimpi aku hanya bisa melihatmu, tak bisa menyentuhmu, tak bisa merasakan hangatnya pelukanmu walaupun hanya dalam mimpi. Dan terkadang aku menangisi dirimu sampai larut mlam bahkan samai dini hari. Tidakkah kau merasakan hal yang sama?
Aku tak tahu bagaimana cara melupakanmu, melupakan semuanya, semuanya. Aku mencoba mencari kesibukkan lain, berharap dengan cara mencari kesibukan lain aku bisa melupakkanmu secara  perlahan , dan ternyata itu tidak bisa. Mencoba mencari penggantimu, tapi aku tidak sanggup melakukannya. Jujur aku masih menyimpan berjuta kenanganmu, aku masih menyimpan foto – fotomu, aku masih menyimpan pesanmu , dan aku masih menyimpan dirimu di dalam hatiku. Sedikitmu aku tidak ingin menghapusnya, berat rasanya hati ini untuk menghapusnya, entah kenapa. Namun hanya itu yang bisa kujadikan pengganti dirimu sebagai pengobat rindu. Orang – orang mungkin menyangkan aku sudah tidak waras lagi , aku tidak peduli, aku masih tetap keras kepala, merareka tidak mengerti perasaanku, bagaimana rasanya jadi diriku, termasuk dirimu…
Aku ingin kau merasakan bagaimana jadi diriku, bagaimana jadi seorang wanita yang hanya bisa menangis di kondisi seperti ini. Aku memang masih kau anggap anak kecil , masih labil , bahkan semua yang aku katakan bagimu hanya ocehan anak kecil yang masih labil ,aku mengerti itu. dan bahkan sekarang kau seolah – olah ingin menjauhiku, tidak ingin menampakkan dirimu dihadapanku, selalu menghindar, bahkan kau menganggapku orang asing. Apa salahku? Tega kau seperti itu padaku, disini aku sangat ingin bertemu denganmu, membicarakan semua yang ada di hati dan pikiranku selama ini. Namun kau malah menghilang, bukankah kita pernah berjanji bahwa kita masih berteman , masih menjaga komunikasi seperti biasanya. Namun kenyataannya? Jauh dari harapanku, haahh…
Aku memang tidak terima dengan kenyataan yang aku alami sekarang, saat kau memutuskan untuk berpisah denganku, mengakhiri semuanya karena kau sudah lelah dengan semua ini , lelah dengan diriku yang selalu menangis di setiap perdebatan kita. Tangisanku yang membuatmu pergi dari hidupku. Pergi karena kau tidak ingin terus – menerus melihatku menangis karena dirimu. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa semua itu salah, dengan dirimu pergi dari hidupku itu yang membuat tangisanku semakin menjadi , tangisanku semakin keras, ingin rasanya aku berteriak bahwa semua itu salah.
Ku coba untuk tetap tegar, mencoba menerima, mencoba membuka hati kembali, mencoba menerima cinta yang baru. Jujur sulit ku lakukan, sebenarnya aku tidak mau kembali mencari, aku lelah untuk mencari cinta yang baru, dengan sifatku yang selektif, sulit untuk mencari seseorang yang baru ,  yang menyenangkan dan membuatku nyaman sepertimu. Itu sulit untukku, jika boleh memilih,aku tidak ingin mengenalmu dan tidak ingin jatuh cinta lagi, aku tidak ingin hatiku hancur lagi. Sulit..
Aku menyusun hidupku yang baru, menyusun kembali hati yang telah hancur, hati  yang tinggal setengah, aku tidak mengetahui pasangan hati ini telah hilang kemana. Bersama hati yang hancur, aku mencoba hidup normal, mencoba untuk focus ke hal – hal lain. Focus dengan hidupku yang tanpa dirimu, aku mencoba berkembang, berkembang menjadi orang yang kuat dan tegar, mencoba melupakan kisah – kisah yang menyakitkan, dan mencoba memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik. Mencoba hidup normal.
Dan di setiap malamku , aku hanya bisa menuliskan keluh dan kesahku di atas kertas, di note yang ada pada ponselku atau di aplikasi pengolah kata yang ada di laptopku, karena tempatku untuk berkeluh kesah sudah tidak ada lagi, aku menuliskan kata demi kata yang ada di hatiku. Sedikit berlebihan, aku tidak peduli. Aku hanya bisa bercerita lewat hati yang di tuliskan oleh jemariku. Hanya sebagian kecil dari curahan hatiku.
Dear you, 
sekitar pertengahan bulan Juni 2013 
Aku sangat merindukanmu, sangat rindu.
Bahkan aku tidak sanggup untuk menahan rasa kesepianku setiap malam, aku tidak sanggup untuk menyimpannya, aku ingin membaginya denganmu, tapi niatan hendak membagi malah tangisan yang kualami, tangisan karena kerinduan itu tidak tersampaikan.
Tuhan , sebenarnya aku tidak seperti ini terus menerus, memaksakan diriku untuk membuang dan melupakan rasa cinta yang dulu pernah ada, rasa ini terlalu sayang untuk di buang, rasa yang seharusnya bisa memberikan bahagia, malah sakit yang kurasakan.
Aku bahagia bisa merasakan cinta, cinta yang aku sendiri merasakannya, aku sendiri pula yang membaginya.
Aku bahagia bisa merasakan cinta, cinta dari hati, dari ketulusan, dan dari keikhlasan menyayangi, tak mengharapkan imbalan.
Walupun itu imbalan dengan rasa cinta yang sama. Bagiku cinta tanpa dirimu, itu saja sudah cukup.
Aku dan dengan bayangmu saja sudah bahagia, bayang dirimu yang ku buat sendiri mimik ekspresi wajahmu, ku buat sendiri bayanganmu di saat kau tersenyum padaku, di saat kita bersama. Kau dan aku bahagia saat itu.
Aku seperti memainkan boneka, tak apa bagiku, yang penting aku bisa merasakan dan menjaga rasa cinta itu, walaupun terselipkan tangis di dalamnya.

Minggu, 29 September 2013

tulisan kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting


Finally, I can move on
sekitar akhir bulan Juni 2013

 Ya, kembali ke dalam keterpurukanku akibat masa lalu, aku berjuang untuk bangkit dan kembali menjalani hari hariku sama seperti di saat aku belum bertemu dan mengenalnya. Sama di saat aku masih menjalani hidupku yang normal normal saja tanpa dia yang masuk dan mengusik ketentraman hidupku yang pasif ini. Ya, aku akui dirimu memberi warna di hidupku, mulai dari warna yang cerah yang menyenangkan, warna yang menyejukkan, warna yang menggairahkan semangat hidupku, dan pada akhirnya kau memberiku warna yang suram, gelap, warna yang campur aduk menjadi satu, merubah semuanya menjadi berwarna suram pekat dan akhirnya berwarna hitam dan gelap. Begitulah gambaran hidupku olehmu. Dari sanalah aku belajar bangkit dari keterpurukan itu, memang susah awalnya tapi aku coba untuk bangkit,
 • mulai dari mencari kesibukan lain, karena dari sanalah aku bisa lupa sejenak dan tidak memikirkan dirinya, akusampai mengikuti berbagai macam kegiatan yang sangat menyita waktuku, hanya karena agar aku tidak memikirkanmu, 
menghilangkan kebiasaan untuk “ stalker “ semua tentang kehidupannya , dengan cara tidak on sama sekali di social media dalam bentuk apapun, 
hang out dengan sahabat sahabat tercinta ke tempat tempat yang menyenangkan, seperti toring ke dareah daerah pegunungan dan pantai, di sana aku bisa berteriak sepuas puasnya dan merefreshkan pikiranku, karena sahabatku saat ini memang benar benar membantuku untuk bangkit dari keterpurukan, enjoy dengan teman teman dan anda akan menemukan kesenangan dan semangat baru kembali” itu menurut bererapa kutipan di internet tentang cara move on 
 • tidak mengisi pulsa handphone, itu akan menekan keinginanku untuk menghubungi dirinya. Menghubungi dirinya hanya akan membuatku sakit lebih dalam akan sikap acuh dan dinginnya yang menghancurkan hatiku,
menuliskan semua isi di hatiku, semua keluh kesahku, dan semua harapanku di dalam sebuah kertas kecil yang nantinya akan ku masukkan ke dalam sebuah kotak kecil, kotak itu aku sebut dengan kotak impian,
yang terakhir adalah membuka hati untuk cinta yang baru,
  dari sekian banyak cara yang kutuliskan, hanya beberapa cara yang bisa kulaksanakan, mencari kesibukan lain adalah caraku yang paling ampuh saat itu, aku mencari kesibukan lain yang sebenarnya hanya menyiksa fisikku, karena saat itu aku benar benar sibuk, kurang istirahat dan akhirnnya aku jatuh sakit. Caraku yang paling ampuh sekaligus paling konyol yang aku lakukan. Aku perlahan mulai meninggalkan kesibukan itu dan kembali menjadi diriku yang biasa.. Setiap malam aku menghabiskan waktuku untuk merenung di kamar yang sudah tidak kauran kondisinya seperti apa karena jarang ku perhatikan, aku habiskan waktukku dengan memandangi wajah sang bulan dan gemerlap si bintang kecil sambil berbincang bincang dengan mereka dalam hati, diiringi lagu dari penyannyi favoritku Bruno Mars talking to the moon yang kuputar sepanjang malam,
I’m feeling like I’m famous The talk of the town 
They say I’ve gone mad 
Yeah, I’ve gone mad
 But they don’t know what I know 
 Cause when the sun goes down 
 Someone’s talking back Yeah, they’re talking back ~
 Do you ever hear me calling? 
 Talking to the moon m, try to get to you, 
 In hopes you’re other side,talking to me too . 
 Itulah sedikit penggalan dari lagu Bruno mars , yang mengalun sepanjang malam hingga menemani tidurku. Aku tidak habis pikir bagaimana caranya aku agar bisa bangkit dari keterpurukan ini. Hari demi hari aku lewati dengan biasanya, tetap menjalani dan menikmati kesendirian ini, aku berjuang pada saat itu. Melakukan hal hal yang normal normal saja, aku tidak menghubungi dirinya sama sekali, aku enjoy dengan kegiatanku dan dengan temanku saat itu Hingga tiba saatnya aku bisa bangkit dan menjadi manusia yang bebas dan lepas. Jika bisa diungkapkan dengan cara terbang, aku akan terbang tinggi hingga langit yang tertinggi dan berteriak “ finally!!! I can move on from you!! , good bye baby I don’t need you anymore!! “ aku akan berteriak itu dengan lantang, perjuangannku selama ini tidak sia sia, good bye you, thanks for all, you’re cool .

Kamis, 26 September 2013

tulisan kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting


Coba dengar aku


Aku , ya aku seorang gadis remaja yang seperti layaknya gadis remaja yang lain , tidak ada yang menarik dari diriku , dan aku merasa aku biasa biasa saja. Tidak berfikir sedikitpun bahwa akan ada yang menyukaiku bahkan mencintaiku degan tulus. Jauh .. ya itu harapan yang jauh , karena menurutku hal itu akan terwujud jika dunia akan menunjukkan keadilannya  padaku, karena selama ini berkali kali aku jatuh cinta , berkali kali juga aku patah hati , cintaku di gantung bebas , bertepuk sebelah tangan , atau bahkan cinta yang tak terbalaskan dan di tinggalkan. Berkali kali aku jatuh cinta , berkali kali juga aku harus mengumpulkan serpihan hati yang telah hancur ini ke tempat semula. Dan jujur itu membuatku lelah, sangat lelah , hingga aku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, dan akhirnya aku menyenderkan tubuhku pada seorang gadis manis bernama Ileven , iya dia sahabatku , dia yang sering menawarkan pundaknya untukku sender , pelukkannya jika aku sudah mulai menteskan air mataku , “ sini , menangislah dalam pelukankku” katanya sambil merangkulku dan mengusap air mataku. Aku hanya bisa menagis  jika sudah seperti ini , tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis , mungkin inilah senjata terakhirku jika sudah menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa ketulusankku berujung tangis , aku di tinggalkan, aku pun tak mengerti apa salahku hingga dia pergi dan meninggalkanku sendiri , merapikan cinta yang telah hancur berserakan sendirian. Tak ada kesempatan untukku untuk memperbaiki kesalahan , bahkan tak ada lagi kata maaf untukku. Aku memang gadis bodoh yang membiarkan cintaku pergi , dan di saat dia pergi aku masih mengharapkannya kembali lagi seperti yang dulu. Yang dulu mencintaiku dan menyayangiku setulus hati, tanpa cela. Aku merasakan dia malaikat untukku, tempat berlindung, berkeluh kesah , berbagi cerita , berbagi cada tawa melengkapi hidupku dan sekarang dia pergi , aku serasa tak memiliki nyawa dan bahagia , karena bahagiaku adalah dirinya. Dan bila aku mendapatkan kesempatan lagi untuk menghapuskan kesalahanku, mengulangnya dari angka nol, aku akan berusaha memperbaikinya, berusaha menghapusnya, berusaha menahannya, berusaha agar dia tidak pergi lagi. Aku masih mencintaimu sama seperti pertama kalinya aku menyadari bahwa perasaan cinta ini ada, dan itu untukmu, kasih.
Dari seorang gadis yang mendamba sebuah kebahagiaan.