Kamis, 01 Mei 2014

lagi nyoba tulis yang modelnya kayak gini nih, semoga suka ya :3



Wacana negeri tercinta


Lihatlah bapak itu!, ya.. Bapak yang berkeliling di sekitaran lampu merah di perempatan jalan sana, harus berjuang menyambung hidupnya beserta keluarganya di usianya yang sudah cukup senja untuk menyekolahkan anak - anaknya sampai ke bangku kuliah dengan harapan agar kehidupan anak beserta cucunya nanti tidak seperti dirinya. Postur tubuh yang semakin tahun semakin mengecil,  membungkuk, semakin kurus, kulitnya sudah hitam legam terbakar panasnya sinar matahari ibu kota, wajahnya ang sudah keriput, kusam ditutupi debu jalanan dan asap kendaraan, kesana kemari menjual asongan, telapak kaki yang sudah semakin tebal, semakin kuat menahan panasnya aspal jalanan ibu kota, menggunakan topi bekas SMA anaknya cukup untuk melindungi kulit kepalanya yang sudah ditutupi rambut putih yang tipis dari panasnya matahari siang bolong itu, menggunakan baju kaos usang yang merupakan baju gratis yang di bagikan oleh para caleg (calon legislatif) sewaktu berkampanye. Sudah menjadi traidisi para caleg ketika berkampanye membagikan baju berserta bahan – bahan bpangan untuk menarik simpati rakyat kecil teruatama. Tulisan di punggungnya klasik, sering sekali di pakai oleh para caleg.
 “Pilih saya! Mari kita bersama – sama menuntaskan kemiskinan di negeri ini!” atau “Di tangan saya, saya jamin korupsi di negeri ini terhapuskan!” namun apa kenyataannya? Para orang – orang yang sudah damai duduk di kursi pemerintahan yang seharga miliaran rupiah itu dengan anggaran belanja Negara yang selangit, dengan tenangnya tidur, mengoceh hal – hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan jeritan rakyat kecil atau berlomba – lomba memiliki barang- barang mewah, itupun jika ingin terjun ke bawah melihat rakyat kecilnya, memberi bantuan untuk korban musibah saja, harus disertai dengan wartawan yang meliput dan mendokumentasi semua kegiatannya kemudian menggunggahnya di sisial media instagram, facebook, twitter, path dan sebagainya agar menjadi popular di kalangan wakil rakyat, begitukah wakil rakyat kita? Bukannya memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya seperti janjinya sewaktu berkampanye dulu, malah berlomba saling cepat – cepatan mengumpulkan pundi – pundi kekayaannya di kursi dan jabatannya sebagai wakil rakyat yang bermartabat.
Apakah menjadi wakil rakyat merupakan profesi yang bertujuan untuk menambah kekayaan? untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan untuk berkampanye? Atau menambah pundi – pundi kekayaannya sembari mencari popularitas? Bukannya sama saja kalau begitu? Uang yang dikeluarkan untuk rakyat sewaktu berkampanye dikembalikan dengan mengambil uang yang merupakan hak rakyat ketika sudah duduk di kursi pemerintahan itu? Rakyat lah yang sengsara juga akhirnya. Banyak caleg yang sudah mulai depresi ketika tidak berhasil maju ke kursi pemerintahan. Politik di negeri yang menggunakan landasan demokrasi yang begitu kental berubah menjadi politik uang, uang, uang melulu di setiap kampanyenya (money politics), ada serangan fajarlah, ada berbagai sembako yang di bagikanlah, sumbangan sana sini untuk pembangunan fasilitas umumlah, klise.
 Setelah bergulat dengan pemikiranku yang bercabang kemana – mana penuh dengan banyak tanda Tanya belum ku temukan satupun jawaban pastinya, aku ingat dengan Bapak yang dari tadi berjualan di atas terik dan panasnya suhu ibu kota, sejak dari matahari yang masih condong di ufuk timur sampai sudah condong dan hampir tenggelam di ufuk barat masih berjualan menjajakan kotak yang di dalamnya terdapat berbagai jenis makanan, minuman dingin maupun panas, permen, rokok dan koran yang berada di dalam tas yang di selempangkan di punggunya, menawarkan setiap pengguna jalan yang sedang menunggu lampu merah untuk berwarna hijau, satu persatu dia tawarkan, namun hanya 1 atau 2 orang saja yang membeli asongannya, apakah di pikiran mereka sama seperti yang ada di pikiranku saat itu? mungkin karena kasihan melihat bapak tua itu yang sudah seharusnya diam di rumah menikmati masa senjanya di rumah sambil bermain dengan cucunya, menceritakan tentang bagaimana masa mudaya, bagaimana negeri kita ini 50 tahun yang lalu seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang – orang senja, namu tidak dengan bapak itu, dia harus menyimpan cerita itu terlebih dahulu untuk cucu – cucunya di rumah.
 Aku yang sedari tadi diam di halte menunggu bus yang datang, tidak henti – hentinya memperhatikan bapak itu sambil membaca koran yang kubeli dari bapak tua itu, tidak hanya koran yang aku beli beberapa bungkus roti untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan menunggu bus yang tak kunjung datang, permen, dan 2 botol minuman dingin aku beli darinya, aku memperhatikan senyum manisnya dari kejauhan, sesekali dia mengusap keringat yang mengalir di dahinya dengan handuk kecil yang dia kalungkan di lehernya. Tersenyum kepada semua pengguna jalan sambil menawarkan dagangannya, sering kali dia di klakson terus – menerus oleh pengguna jalan yang sudah tidak sabaran untuk segera tancap gas ketika lampunya sudah hijau, bapak itupun bergegas menepi dengan jalan yang mebungkuk tidak setegap 30 tahun yang lalu, dia menyingkir dengan hati – hati karena sudah tidak selincah dulu, dia tidak mampu berhalan cepat apalagi berlari dan kaki yang menahan panasnya aspal jalanan ibu kota. Miris melihat banyaknya nasib rakyat negeri kita ini yang sudah semakin menderita berbanding terbalik dengan semakin mewahnya kehidupan wakil rakyat yang sudah di atas langit.
 Kapan mereka mendapatkan kebahagiaan di negeri mereka yang konon negeri kaya dengan sumber daya alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke? Sepertinya sumber daya alam yang melimpah itu sudah habis oleh perusahaan luar negeri yang mengolahnya sampai habis menegering dan menciut, seolah – olah kekayaan alam yang melimpah itu sudah menjadi wacana klise yang berujung pada mitos di negeri ini. Kapan kita sebagai rakyat kecil terselamatkan dari bencana kemiskinan dan kemelaratan di negeri sendiri? Mungkin sampai saya berhenti untuk menulis wacana ini belum juga selesai, atau sampai negeri kita berubah nama menjadi “Negeri yang dulunya kaya dan makmur“ tidak lagi seperti lagu – lagu dan wacana yang menggambarkan kekayaan negeri ini sampai ke seantero jagat raya. Lucunya kita menjadi budak di tanah kelahiran kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar