Selasa, 01 Oktober 2013

sekitar pertengahan bulan Juni 2013


Lagi belajar jadi penulis , walau masih amatir. 
Broken 
sekitar pertengahan bulan Juni 2013 
Kau yang biasanya mengirimkan ucapan “ selamat pagi” atau “ good morning my lovely” kini tak ada lagi , tak ada lagi yang melakukan hal itu di pagi ini. Pagi yang tidak biasa ku hadapi , pagi yang menurutku tanpa sinar pagi yang luar biasa memberikan semangat pagi. Pagi yang dingin tidak seperti biasanya, pagi ini aku tidak memiliki gairah hidup, demi Tuhan aku tidak bersemangat pagi ini. Setelah kuingat apa yang terjadi semalam, aku masih tidak isa membayangkannya, aku masih tidak menyangka, seolah – olah itu hanyalah mimpi buruk. Hari ini akan jadi hari dimana aku kehilangan sebagian nyawaku yang telah terbang pergi seperti enggan untuk kembali ke badannya. Oke, aku berusaha melewati pagi ini seperti biasanya , meskipun tanpa semangat , dan doa restu darinya yang mengiringi langkahku. Siang ini, tidak seperti biasanya juga, tanpa pesan yang mengingatkan ku untuk makan siang , tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk menjaga pola makanku, dan tidak ada lagi yang memberi suntikan semangat untuk kegiatanku yang hingga sore hari.
Aku menjalani hari ini tidak seperti biasanya. Aku hanya bisa melihat fotonya yang masih kusimpan dan berjuta pesannya yang belum ku hapus itu kembali ku baca satu persatu. Dan aku harap pesannya yang baru masuk ke ponselku. Aku baca satu persatu, setiap katanya yang penuh kenangan manis aku kembali mengingat masa itu, ketika dia masih berada di sisiku, masih menggenggam tanganku sambil berkata bahwa dia tidak ingin kehilangaku sambil membisikan kata “ I love you “ yang membuatku semakin tidak ingin kehilangannya dan tidak ingin meninggalkannya, aku sangat menyayanginya, aku merasa aku hidup untuknya dan dia hidup untukku. Akupun tersenyum bahagia dalam pelukan hangatnya. Kenangan  itu masih terbayang – bayang  di benankku. Air mataku pun menetes , aku tidak kuasa menahan kesedihan akan  kehilangan diriya. Dalam kesedihan aku memeluk fotonya sambil berharap bahwa dia akan kembali padaku.
Sore yang tidak biasa ku lewati, aku masih mengingat disaat dia masih bisa meluangkan waktunya untuk menjemputku. Mengajakku keliling – keliling dahulu sebelum mengantarku pulang dan sebelum dia pulang aku selalu mengatakan agar dia berhati – hati di jalan dan menyisipkan kata “ I love you” sebelum dia pergi. Memanfaatkan waktu untuk bersama – sama itulah caranya untuk menjaga hubungan agar tidak terkesan  biasa – biasa saja, selalu ada kejutan manis yang menurut orang lain tidak berarti apa -  apa tapi menurutku itu sangat manis. Aku bahagia saat itu , aku tidak meyangka akan mendapatkan sosok sesempurna dia dalam hidupku. Dan kini aku kehilangan sosok sempurna itu, tidak ada lagi yang memberiku kejutan mais, tidak ada lagi yang menjemputku sembari mengajakku jalan – jalan sebelum mengantarku pulang, tidak ada lagi kata “I love you” lagi yang dia bisikan untukku,dan tidak ada lagi sosok sempurna itu di hari- hariku.
Malam yang sangat dingin dan tidak seperti biasanya, sangat kesepian dan hanya sendiri. Tidak ada pesan yang masuk ke ponselku menemaniku melewati malam, menjelang tidurku. Atau telpon yang selalu berdering setiap pukul 08.00 menandakan bahwa kau yang menelponku, nada panggilan lagu favorit kita berdua. Kita mengobrol lewat telpon sampai malam, kita tidak pernah kehilangan topik untuk di perbincangkan, dia sebagai sosok pendengar yang baik, aku selalu bercerita tentang apa saja yang aku alami seharian tadi, dia selalu mendengarkan setiap keluh dan kesahku, dan dia selalu memberiku saran dan nasehat untukku, bahkan dia selalu menenangkanku di saat aku bimbang, di saat aku takut, dia saat aku sangat membutuhkan penyegaran akan semua masalahku, dia selalu ada untukku saat itu.  Kita berbincang – bincang sampai di antara kita ada yang tertidur lebih dulu, dan saat itulah kita tahu bahwa harus mengakhiri pembicaraan kita. Diselipkan kata “ I love you “  sebelum menutup telpon. Sekarang telpon itu tidak berdering baik itu menandakan ada pesan baru atau panggilan darimu , panggilan dari hatimu yang rindu padaku.
Malam yang dingin tidak ada yang memeluk memberi kehangatan dari jauh. Aku  sendirian , kesepian, tanpa harapan. Kubuka jendela kamarku dan menatap bulan dengan bintang yang menghiasi di sekitarnya. Berharap kau sedang melakukan hal yang sama di sana, kusampaikan bahwa aku sangat merindukan dirimu dan berharap bulan dapat menyampaikan pesannya padamu. Aku sangat kesepian tanpamu, sangat kesepian. Aku terbiasa melewati malam denganmu, dan sekarang aku terpakasa melewati malam tanpamu. Aku terbiasa hidup denganmu, bukan tanpamu.  Malam yang ingin cepat – cepat kulewati, aku ingin segera tertidur. Aku berusaha memejamkan mataku, tapi aku tidak bisa. Masih ada sesuatu yang kurang ketika aku tertidur, dan itu dirimu. Setiap malam aku mengalami kesulitan tidur, aku hanya terdiam, termenung, menatap langit malam sampai larut malam atau sampi dini hari. Aku tidak tahu harus melakukan apa, dan satu – satunya keinginanku adalah tertidur dengan tenang seperti biasanya. Berharap aku terbangun esok pagi dan semua ini hanya mimpi buruk. Dan jika ini hanya mimpi buruk,aku tidak ingin tertidur lagi ,karena mimpi ini sangat menyiksa bathinku.
Aku terbangun karena sudah pagi, segera mengecek ponselku berharap ada pesan darimu yang mengucapkan selamat pagi masuk ke ponselku seperti biasanya. Setelah ku cek, air mataku jatuh. Ternyata dirimu sudah pergi,  kita tidak dapat bersama lagi. Aku menangis sejadi – jadinya, seolah – olah tidak terima kenyataan. Hidupku yang sekarang inilah yang namanya mimpi buruk, rasanya ingin tidur dan enggan untuk bangun lagi. Bagiku mimpi dan kenyataan sama saja , sama saja aku kehilanganmu. Aku mengingat berjuta memori bersamamu , berjuta kenangan yang harus aku lupakan, tugas terberat dan terburuk yang pernah aku dapat. Mimpi buruk itu terjadi, secepat itu. Selama itulah aku hanya bisa menagis. Miris….
 Aku teringat  dimana selalu ada pertengkaran kecil dalam hubungan kita , dan selalu saja aku berhasil di buatnya menangis karena kelakuannya, dia tidak memberiku kabar seharian yang membuatku menangis , aku yang saat itu sangat khawatir, seketika marah dan kesal itu menjadi air mata yang membasahi pipiku ketika dia menelponku , dia berusaha menenangkan ku dan menjelaskan sebab – sebabnya, aku pun tenang kembali. Seolah ingin membayar kesalahannya, dia pun  menyanyi untukku sembari mengantarku tidur, dia bukan penyanyi profesional, dia hanya menyanyi untukku, nyanyian penghantar tidurku. Ingin rasanya mendengarnya lagi, mendengar suaranya lagi, suara yang di sertai tawa kecilnya yang terngiang – ngiang di telingaku. Ya Tuhan , aku sangat merindukan dirinya , bahkan suaranya pun tak pernah ku dengar lagi, suaranya yang membuatku tenang itu telah hilang, aku tidak ingin menggatikan dirinya di hidupku , aku masih berharap dia kembali lagi.
Aku masih mengingat ketika dia juga khawatir kepadaku , ketika aku pergi tanpa diriya , dan aku tidak sempat memberinya kabar betapa khawatirnya dia , sungguh aku tidak tega ketika wajah khawatirnya memelukku, aku menyesal membuatnya khawatir. Maafkan aku sayang, aku jarang memberimu kabar , bukannya bermaksud balas dendam karena kamu jarang memberiku kabar. Hanya saja aku benar – benar tidak sempat memberimu kabar. Dan sekarang tidak ada lagi sosok yang khawatir ketika aku tidak memberinya kabar , tidak ada lagi sosok yang selalu menunggu pesanku dan sosok yang selalu aku tunggu pesannya.
Dan betapa bahagianya dirimu begitu melihatku marah , aku masih ingat kalau kamu sangat suka melihatku ngambek , entah lucu darimananya , kamu selalu tertawa kecil ketika aku ngambek. Dan sekarang tidak ada lagi dirimu yang seperti itu lagi, yang selalu menggodaku dikala aku ngambek , selalu membuatku merasa seperti anak kecil di kala aku ngambek, dan akhirnya aku pun tertawa kembali seperti semuanya menjadi lelucon ,aku sangat merindukan masa – masa itu sayang. Masa – masa yang begitu indah , begitu manis, begitu sakit jika kucoba utuk melupakkanya.
Dirimu yang begitu dewasa berbanding terbalik dengan sikapku yang manja dan masih sangat kekanak – kanakan membuatku begitu rapuh tanpa dirimu, seperti tidak mempunyai sang penuntun lagi di terowongan yang begitu gelap dihidupku , aku sangat kehilangan arah tanpamu, entah aku masih biasa hidup atau aku akan mati , tenggelam dalam rasa kehilangan yang begitu dalam. Sosok yang sangat dewasa , namun terkadang manja , dan kekanak – kanakan dan kau bisa menjadi dewasa di saat aku menjadi manja, sebaliknya kau menjadi manja di saat aku menjadi dewasa , sosok pelengkap itu tidak  melengkapi hidupku lagi.
Terkadang kita pernah berangan - angan kita bisa bersama selamanya. Kita bisa berbagi suka dan duka bersama, saling melengkapi satu sama lain. walaupun aku masih tau bahwa itu masih belum pantas untuk di bayangkan. Mengingat ada tembok tinggi yang memisahkan kita. Dan masih ada banyak waktu untuk meraih cita - cita terlebih dahulu sebelum kita membicarakan hal itu. Masih terlalu dini untuk di pikirkan. Feelingku selalu berkata begitu, aku lahir hanya untuk dirimu  dan kamu untuk diriku.
Ternyata feelingku itu salah, justru begitu cepat kita berpisah. Begitu cepat untuk semua ini,terlalu cepat untukku, bahkan kau pergi menghilang, tidak ada kabar, tidak pernah kulihat lagi sosokmu sejak malam itu. Malam saat dimana kita memutuskan untuk berpisah. Sejak saat itu dirimu, dan semua yang besifat tentangmu itu hilang dengan sekejap , tidak berbekas. Aku tidak siap kehilangan dirimu, tapi kau telah pergi dengan sekejap dan tidak berbekas sama sekali. Dan aku merasa kebersamaanku degan dirimu bagaikan mimpi, mimpi yang begitu indah, dan berubah menjadi sampah ketika ku terbagun.
Harapanku begitu besar bersamamu, begitu indah, begitu tinggi, dan begitu sakit saat harapan itu terjun bebas, hancur , remuk berantakkan, hancur berserakan. Ketika tingginya mimpiku tentang kita, tiba – tiba harus hancur jatuh berserakan begitu terucap perpisahan. Tidakkah kau bayangkan betapa terpukulnya diriku? Betapa hancurnya perasaanku saat itu. Aku sendirian memungut sisa – sisa impian kita yang telah hancur sendirian, mencoba merangkai kembali tetapi tak bisa, aku tak sangup merangkai itu sendiri, aku butuh dirimu saat ini sayang.
Aku menitipkan hatiku sebagian untukmu dan sebagian lagi untukku. Aku ingin kau menjaga hati ini, berharap agar kau tidak menghancurkan hati ini, kita sudah berjanji tidak ingin menyakiti satu sama lain, berjanji tidak akan meninggalkan, kita berjanji tidak akan menyerah pada keadaan, kita akan melewati semuanya bersama. Kau telah ingkar janji, kau menghancurkan hati ini, kau menjatuhkannya, kau menhancurkannya berkeping – keping, dan kau meninggalkannya, kau menyerah pada keadaan, kau meyerah pada semua ini, aku mengambil hati yang hancur itu , mencoba untuk memperbaikinya, menyunsunnya kembali, tapi tidak bisa akhirnya serpihan hati ini pergi dan menghilang diterbangkan oleh tiupan angin malam. Kini hatiku tinggal setengah, dan itupun juga hancur.
Kamu memang tidak meninggalkan dunia ini , namun dirimu sebagai orang yang sangat aku sayang dan dulu sangat menyayangiku , yang dulu pernah menjadi bagian dihidupku yang sudah mati. Rasa yang dulu pernah ada untuk diriku  sudah padam, rasa cinta yang ada di antara kita berdua sinarnya sudah meredup, seolah – olah aku kehilangan sosok dirimu yang dulu untuk selama – lamanya. Bagiku kau yang dulu sudah mati , ya begitulah kekesalanku ketika kau telah berubah. Aku pesimis dirimu bisa kembali seperti yang dulu , dan sinar di cinta kita berdua bisa terang lagi seperti yang dulu, semua hal – hal yang bersifat dulu di antara kita, ingin aku rasakan kembali kehangatannya. 
Aku hanya mengenalmu sebagai sosok yang dingin , bukan kepada semua orang , kamu hanya dingin kepadaku. Aku merasakannya seperti itu, ada apa dengan dirimu? Begitu tidak pentingnya aku bagimu? Begitu bencikah dirimu kepadaku? Begitu inginnya kamu melupakkanku dan pergi meninggalkan diriku sendiri? Apa salahku? Pertanyaan itu yang selalu terbayang – bayang , selalu memutar di pikiranku. Apakah ini semua salahku?  Aku egois , aku cerewet , aku banyak menuntut , aku kekanak – kanakan ,aku manja , aku over dramatis, aku terlalu menyayangimu, dan aku takut kehilanganmu. Maafkan aku yang telah membuatmu lelah untuk menghadapi semua sikapku itu.
Sekarang kau tega membawaku ke sebuah dongeng di panggung kehidupan yang di sana hanya aku yang berperan di dalamnya,aku sendirian, tanpa dirimu sebagai lawan main  yang melengkapi cerita itu. Aku tidak tahu harus berperan apa , aku kaku, mulutku terkunci rapat tidak bisa berkata apapun sebagaimana mestinya aku menghafalkan dialog itu, aku panik dimana tidak ada secercah sinar lampu sorot yang biasa menyinari  tokoh di saat tampil, gelap tidak ada yang bisa melihatku, aku tenggelam dalam riuh tepuk tangan para penonton tanpa tahu apa yang sedang mereka tepuk tangani , aku jatuh tersungkur, menangis miris, dan putus asa begitulah aku tanpamu.
Hampir 1 bulan kita berpisah, dan selama 1 bulan itu aku masih menangisi semua yang terjadi, masih sering mengingat – ngingat memori kita dahulu yang  hanya sebentar, walau sebentar tapi begitu banyak kenangan manis yang sulit untuk aku lupakan. Dan setiap malam selama 1 bulan itulah aku masih terjaga hingga dini hari, karena kesulitan tidur. Bagaimana aku bisa tidur jika selama tidur itu dalam mimpi aku masih memimpikanmu? Terjaga saat subuh dan kembali menagis karena memimpikan dirimu, aku menangis karena dalam mimpi aku hanya bisa melihatmu, tak bisa menyentuhmu, tak bisa merasakan hangatnya pelukanmu walaupun hanya dalam mimpi. Dan terkadang aku menangisi dirimu sampai larut mlam bahkan samai dini hari. Tidakkah kau merasakan hal yang sama?
Aku tak tahu bagaimana cara melupakanmu, melupakan semuanya, semuanya. Aku mencoba mencari kesibukkan lain, berharap dengan cara mencari kesibukan lain aku bisa melupakkanmu secara  perlahan , dan ternyata itu tidak bisa. Mencoba mencari penggantimu, tapi aku tidak sanggup melakukannya. Jujur aku masih menyimpan berjuta kenanganmu, aku masih menyimpan foto – fotomu, aku masih menyimpan pesanmu , dan aku masih menyimpan dirimu di dalam hatiku. Sedikitmu aku tidak ingin menghapusnya, berat rasanya hati ini untuk menghapusnya, entah kenapa. Namun hanya itu yang bisa kujadikan pengganti dirimu sebagai pengobat rindu. Orang – orang mungkin menyangkan aku sudah tidak waras lagi , aku tidak peduli, aku masih tetap keras kepala, merareka tidak mengerti perasaanku, bagaimana rasanya jadi diriku, termasuk dirimu…
Aku ingin kau merasakan bagaimana jadi diriku, bagaimana jadi seorang wanita yang hanya bisa menangis di kondisi seperti ini. Aku memang masih kau anggap anak kecil , masih labil , bahkan semua yang aku katakan bagimu hanya ocehan anak kecil yang masih labil ,aku mengerti itu. dan bahkan sekarang kau seolah – olah ingin menjauhiku, tidak ingin menampakkan dirimu dihadapanku, selalu menghindar, bahkan kau menganggapku orang asing. Apa salahku? Tega kau seperti itu padaku, disini aku sangat ingin bertemu denganmu, membicarakan semua yang ada di hati dan pikiranku selama ini. Namun kau malah menghilang, bukankah kita pernah berjanji bahwa kita masih berteman , masih menjaga komunikasi seperti biasanya. Namun kenyataannya? Jauh dari harapanku, haahh…
Aku memang tidak terima dengan kenyataan yang aku alami sekarang, saat kau memutuskan untuk berpisah denganku, mengakhiri semuanya karena kau sudah lelah dengan semua ini , lelah dengan diriku yang selalu menangis di setiap perdebatan kita. Tangisanku yang membuatmu pergi dari hidupku. Pergi karena kau tidak ingin terus – menerus melihatku menangis karena dirimu. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa semua itu salah, dengan dirimu pergi dari hidupku itu yang membuat tangisanku semakin menjadi , tangisanku semakin keras, ingin rasanya aku berteriak bahwa semua itu salah.
Ku coba untuk tetap tegar, mencoba menerima, mencoba membuka hati kembali, mencoba menerima cinta yang baru. Jujur sulit ku lakukan, sebenarnya aku tidak mau kembali mencari, aku lelah untuk mencari cinta yang baru, dengan sifatku yang selektif, sulit untuk mencari seseorang yang baru ,  yang menyenangkan dan membuatku nyaman sepertimu. Itu sulit untukku, jika boleh memilih,aku tidak ingin mengenalmu dan tidak ingin jatuh cinta lagi, aku tidak ingin hatiku hancur lagi. Sulit..
Aku menyusun hidupku yang baru, menyusun kembali hati yang telah hancur, hati  yang tinggal setengah, aku tidak mengetahui pasangan hati ini telah hilang kemana. Bersama hati yang hancur, aku mencoba hidup normal, mencoba untuk focus ke hal – hal lain. Focus dengan hidupku yang tanpa dirimu, aku mencoba berkembang, berkembang menjadi orang yang kuat dan tegar, mencoba melupakan kisah – kisah yang menyakitkan, dan mencoba memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik. Mencoba hidup normal.
Dan di setiap malamku , aku hanya bisa menuliskan keluh dan kesahku di atas kertas, di note yang ada pada ponselku atau di aplikasi pengolah kata yang ada di laptopku, karena tempatku untuk berkeluh kesah sudah tidak ada lagi, aku menuliskan kata demi kata yang ada di hatiku. Sedikit berlebihan, aku tidak peduli. Aku hanya bisa bercerita lewat hati yang di tuliskan oleh jemariku. Hanya sebagian kecil dari curahan hatiku.
Dear you, 
sekitar pertengahan bulan Juni 2013 
Aku sangat merindukanmu, sangat rindu.
Bahkan aku tidak sanggup untuk menahan rasa kesepianku setiap malam, aku tidak sanggup untuk menyimpannya, aku ingin membaginya denganmu, tapi niatan hendak membagi malah tangisan yang kualami, tangisan karena kerinduan itu tidak tersampaikan.
Tuhan , sebenarnya aku tidak seperti ini terus menerus, memaksakan diriku untuk membuang dan melupakan rasa cinta yang dulu pernah ada, rasa ini terlalu sayang untuk di buang, rasa yang seharusnya bisa memberikan bahagia, malah sakit yang kurasakan.
Aku bahagia bisa merasakan cinta, cinta yang aku sendiri merasakannya, aku sendiri pula yang membaginya.
Aku bahagia bisa merasakan cinta, cinta dari hati, dari ketulusan, dan dari keikhlasan menyayangi, tak mengharapkan imbalan.
Walupun itu imbalan dengan rasa cinta yang sama. Bagiku cinta tanpa dirimu, itu saja sudah cukup.
Aku dan dengan bayangmu saja sudah bahagia, bayang dirimu yang ku buat sendiri mimik ekspresi wajahmu, ku buat sendiri bayanganmu di saat kau tersenyum padaku, di saat kita bersama. Kau dan aku bahagia saat itu.
Aku seperti memainkan boneka, tak apa bagiku, yang penting aku bisa merasakan dan menjaga rasa cinta itu, walaupun terselipkan tangis di dalamnya.

3 komentar:

  1. yunikkk! khe ngingetin aku sama dia :") dia yang selalu ada buat aku, dia yang selalu bikin kau senyum, dia yang selalu buat hati-hariku the best dan dia yang selau bilang 'i love you' ke aku.
    you know, this story its my story :")

    BalasHapus
  2. haha, aduh, maaf yaa udah bikin nusuk :')

    BalasHapus
  3. yahh,, lupakan, aku udah move on, dia udah nothing

    BalasHapus